Menepi untuk Menyesap Segelas Kopi Klothok

Pemandangan bagian belakangPemandangan bagian belakang Kopi Klothok | © Moddie Alvianto Wicaksono

Awan mendung menggelayut di langit tak menyurutkan keinginan saya dan beberapa untuk menyusuri jalan Kaliurang, Yogyakarta. Oleh salah satu tetangga sebelah rumah, kami disarankan untuk mengunjungi sebuah warung kopi di daerah tersebut. Letaknya dekat salah satu kampus swasta ternama di Yogyakarta. Katanya, warung kopi tersebut pas untuk dikunjungi orang-orang yang ingin sekadar menjauhi keriuhan Yogyakarta.

Benar sekali. Yogyakarta kini memang sangat ramai. Terutama di saat-saat liburan sekolah. Berjubel bus dan mobil pribadi dari luar kota hampir memenuhi seluruh tempat-tempat wisata. Mulai pantai, gunung, warung makan, maupun warung kopi. Tak terkecuali warung kopi yang akan kami tuju.

Kopi klothok, demikian namanya. Jangan salah menyebut huruf “o” dengan diganti “a”. Karena jika diganti “a” maka akan menjadi sejenis sate kambing asal daerah Imogiri, Yogyakarta bagian selatan: sate klathak.

Tak sulit untuk menemukan lokasi penjual kopi klothok ini. Papan-papan dengan tulisan ‘kopi klothok’ cukup jelas dengan latar belakang warna kuning. Jika Anda berjalan dari arah selatan maka Anda akan menemukannya tepat di sebelah kanan. Jalan masuknya cukup sempit. Jika menggunakan mobil, maka harus bergantian satu dengan yang lain.

Begitu sampai di tempat, puluhan mobil tertata rapi memnuhi area parkir. Begitu pula dengan sepeda motor. Benar kata tetangga saya. Warung kopi yang buka dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore ini memang tak pernah sepi pengunjung. Termasuk senja di Selasa sore itu.

Kopi Klothok di tengah kami
Kopi Klothok di tengah kami | © Moddie Alvianto Wicaksono

Ada dua rumah yang bisa digunakan sebagai tempat bersantai. Bagi yang ingin dekat dengan keriuhan dan keramaian, maka pilihlah tempat yang penuh dengan perabotan berbahan material kayu. Namun jika ingin agak menyepi, maka tersedia tempat yang bahkan bisa membuat Anda tertidur di tempat tersebut.

Kami sengaja memilih tempat yang ramai. Sengaja ingin berbaur muda-mudi, bapak-ibu sampai kakek-nenek. Sayang, hari itu kami tak mendapati kursi di depan, ahirnya kami pun menempati tempat lesehan. Letaknya di luar dengan menghadap hamparan sawah dan sungai. Mengambil dan menggelar tikar dekat dengan kurungan burung pipit. Sejenak mengamati goyangan rumput dan mendengar kicauan burung-burung yang bersahutan. Syahdu? Ya, mungkin diksi itu yang paling tepat menggambarkan suasana senja itu.

Bagaimana tidak, hamparan sawah hijau menjadi pemandangan kami, semilir angin menerpa muka-muka lelah. Sejenak kami terbebas dari polusi, telinga diperdengarkan tawa-tawa bahagia orang-orang bercengkrama. Mereka khidmat menikmati kopi dan sajian pelengkap berupa pisang goreng yang nikmatnya tiada dua, belum lagi suara sendok yang beradu dengan piring dari para penikmat sayur lodeh yang konon menjadi menu andalan di sana.

Semua makanan diambil sendiri oleh pengunjung. Bebas sebebasnya. Kalo perlu ambillah sebanyak-banyaknya. Jangan sampai ada yang terlewat. Untuk menikmati pisang goreng dan jadah maka Anda harus antri terlebih dulu. Kami pun rela mengantri demi seporsi pisang goreng dan seporsi jadah.

Nyesss. Hangatnya pisang goreng langsung mendarat di mulut saya. Meski panas, kami menyantap dengan lahap beserta dengan remah-remahnya. Kopi kami seduh sedikit demi sedikit. Sungguh nikmat rasanya. Tak rugi, kami beserta rombongan jauh-jauh melewati kemacetan Jogja demi menyantap segepok pisang dan secangkir kopi.

Kami kemudian tergerak untuk segera mencicipi sayur lodehnya. Mulut kami sampai klomohklomoh menyantapnya. Rasanya mantap surantap. Apalagi ditambah dengan tempe goreng yang bentuknya sama persis dengan ukuran tangan saya.

Macam-macam Lodeh
Macam-macam Lodeh | © Moddie Alvianto Wicaksono
Pisang Goreng dan Tempe
Pisang Goreng dan Tempe | © Moddie Alvianto Wicaksono

Usai menyantap semua sajian itu, ada beberapa macam makanan dan minuman yang menurut saya menjadi andalan: kopi klothok, pisang goreng, jadah, dan lodeh. Ada tiga macam lodeh yang tersedia. Tapi saran saya, sekali lagi jangan pernah melewatkan untuk tidak makan lodeh tersebut.

Harga yang ditawarkan di warung ini juga menjadi magnet dari warung kopi klothok. Hal inilah yang mungkin menarik puluhan bahkan mungkin ratusan pengunjung setiap harinya. Tak hanya pengunjung lokal, tapi mulai artis, seniman, budayawan, bahkan menteri pernah singgah di warung ini.

Dan tak heran, warung kopi klothok akan menjadi destinasi favorit bagi wisatawan dalam negeri maupun mancanegara. Kami sudah merasakan syahdunya di Kopi Klothok, kamu kapan?

Artikel ini telah dimuat di minum kopi pada 28 Desember 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s