Merasa Beruntung Menjadi Minoritas

mirifica-net-ok

[Ilustrasi] mirifica.net

Setelah bercerita tentang keluarga yang cukup njlimet dan mbulet, rasanya kok saya ingin sedikit berbagi cerita tentang rasanya hidup sebagai keluarga minoritas.

Sejak kecil, saya hidup di lingkungan minoritas. Kalau di Indonesia, minoritas itu kan berarti non-muslim. Tapi yang terjadi di sini adalah sebaliknya. Ya, ketika kami sebagai muslim menjadi minoritas di lingkungan perumahan.

Rata-rata tetangga saya adalah orang-orang Tionghoa beragama Kristen. Malah hampir sebagian besar di perumahan ini. Depan, belakang, kiri, kanan, bahkan serong kiri agak menjorok ke bawah, semuanya adalah orang Tionghoa.

Tapi ya gitu. Kalau ada teman-teman yang berkunjung ke rumah, pasti selalu salah tempat. Mungkin karena saya sedikit ada muka Tionghoa – walaupun cuma mata – teman-teman saya sering nyasar ke rumah sebelah. Dan, yang lebih menggelikan, mereka selalu mengatakan bahwa saya lebih pantas jadi anak rumah sebelah daripada di rumah sendiri. Waduh.

Di lingkungan ini, saya baru mengerti apa itu sikap menghargai dan menghormati antar sesama pemeluk agama. Rasanya suatu sikap yang agak terkikis pada akhir-akhir ini. Tapi masih ada kok yang masih memelihara sikap tenggang rasa antar sesama.

Dulu, kami tak punya masjid. Kalaupun mau beribadah, kami harus menyeberang ke kampung sebelah. Nggak jauh sih, tapi agak berbahaya bagi bapak-ibu yang sudah renta. Sebab, mereka harus menyeberang di jalanan, dimana mobil dan motor berseliweran cukup kencang. Akhirnya, kami mengadakan rapat untuk berunding.

Kami berpikir untuk mewujudkan tempat beribadah sepertinya agak rumit. Toh, kami sadar, kami adalah minoritas. Tugasnya ya menghormati mayoritas. Sudah diberi keleluasaan tempat tinggal kok minta lebih. Apalagi ini mintanya tempat ibadah. Duh…

Namun di luar dugaan. Akhirnya masjid boleh didirikan. Bahkan yang unik, mereka pun ikut memberikan bantuan. Mulai dari member kudapan, makanan, bahkan tak jarang sedikit pendanaan. Ah, rasanya senang sekali. Saya sampai berpikir, ternyata mereka tak seperti yang dikatakan oleh orang di luar sana.

Itu soal masjid. Setelah masjid sudah berdiri, ada lagi yang unik. Tentang adzan. Ya, kebetulan di lingkungan kami, ada seorang ustadz keturunan Arab. Kalau sudah adzan, duh rasanya hati mak adem mak nyess. Sungguh indah dan merdu suaranya.

Ternyata yang beranggapan seperti itu tak hanya kami, melainkan mereka orang-orang Tionghoa. “Mas, itu sapa sih, kok adzannya bagus banget? Tiap subuh saya jadi bangun cuma pengen denger suaranya,” ujar ibu di sebelah rumah saya.

Saya pun kaget mendengarnya. Saya pikir mereka justru marah atau merasa terganggu. Apalagi ibu tersebut jarak rumahnya hanya selemparan bola bekel dari masjid. Ternyata tak hanya ibu tersebut, banyak mengakui keindahan dan merdunya suara ustadz tersebut.

Tenang. Ini bukan pendangkalan akidah. Sama sekali bukan. Hanya ingin sebatas memuji dan mendengarnya.

Saya juga memuji bagaimana ketika mereka berkumpul dalam suatu malam. Bernyanyi, bernyanyi, dan bernyanyi. Terkadang saya curi dengar dengan duduk jongkok di samping pagar, sambil ngunyah lolipop. Kadang mengikuti mereka bernyanyi. Walaupun tentu saja suara saya sebatas pecahan gelas kaca. Tak lebih dari itu.

Dan, sekali lagi, ini bukan lantas iman saya menipis. Oh tidak. Wong, suara mereka memang asyik didengar kok. Hanya mendengar suara mereka bernyanyi, mosok sampe dianggap penurunan iman.

Nah, kalau Natal sudah tiba, biasanya beberapa tetangga dikirimi kue dan aneka macam kudapan, termasuk keluarga kami. Apalagi ibu saya. Ibu saya sangat bersahabat dengan mereka. Bahkan sudah dianggap saudara sendiri. Ibu sepertinya jadi orang paling sering diberi kue aneka macam.

Terkadang saya nggak ngerti kenapa banyak orang benci sama Tionghoa. Rasanya sih berlebihan, kalau melihat kehidupan mereka di lingkungan ini. Saling melindungi dan menghormati.

Toleransi tercipta karena kami sadar bahwa hidup tak sendiri. Manusia adalah makhluk sosial. Membantu sesama, menghargai, dan menghormati adalah kewajiban manusia. Kalaupun kami tak saudara se-iman, maka kami adalah saudara atas kemanusiaan. Bukankah indah hidup damai tanpa memberi stigma mana baik dan buruk?

Toh, semuanya kembali kepada Tuhan. Mau baik dan buruk yang tahu juga Tuhan. Kita kan hanya mencoba. Mencoba dan terus mencoba untuk berbuat baik. Alangkah indahnya hidup berkelindan tanpa ada jelaga antar sesama manusia.

Alangkah menyenangkan apabila kita selalu menebar salam damai kepada siapapun. Karena kasih dan kebermanfaatan selalu menyertai kita semua. Dan, mari kita hidup selalu menghormati dan menghargai, bukan membenci apalagi melukai.

Seperti yang dikatakan Hans Kung, “Tak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian antar agama. Tak ada perdamaian antar agama tanpa dialog antar agama.”

Artikel ini dimuat di voxpop.idmirifica-net-ok pada 26 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s