Hubungan Internasional

Saya tak pernah menyangka dan berharap untuk masuk ke dalam jurusan HI. Toh, karena jika bukan bujukan dan rayuan ibu saya, maka saya tidak akan masuk ke dalam jurusan tersebut. Katanya, jurusan HI akan menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Itu saja.

Ketika saya masuk, ternyata saya masuk ke dalam generasi ke 2. Ini artinya jurusan HI baru saja didirikan. Ya, memang benar adanya. Jurusan HI Universitas Brawijaya baru saja didirikan pada tahun 2007. Jurusan yang tergolong muda diantara seluruh jurusan di Universitas Brawijaya.

Sebagian dari kami memang benar-benar ada yang tertarik masuk HI. Sebagian lagi ada yang terjerumus alias salah jurusan. Dan yang paling unik ada yang masuk berdasarkan bujukan rayuan teman-temannya. Ya. Biar kalo ditanya orang-orang nantinya orang-orang bakalan berkata

“Wah masuk HI, hebat ya.”

“Wah, jago bahasa Inggris dong.”

“Wah bakal jadi diplomat nih.”

Tapi itu hanya klise belaka. Tidak semua impian tercipta begitu saja.

Ada yang kaget ketika kami harus belajar politik. Ada yang malas jika harus membaca jurnal bahasa Inggris. Baca buku saja sudah malas, kok ini disuruh membaca jurnal bahasa Inggris. Mending ditutup saja bukunya. Begitulah kata seorang teman gila saya.

Sebagian dari kami memang mengalami gagap budaya. Hanya beberapa dari kami yang memang benar-benar menguasai mata kuliah. Kalo dosen sudah memberi pertanyaan kepada kami, jelas pasti hanya teman-teman itu saja yang bisa menjawab. Kami bukannya tidak mau menjawab. Kami memang benar-benar tidak bisa menjawab. Dan parahnya, kami hanya terdiam, duduk termangu saja sambil utak-atik hape. Ya itu memang sebagian dari kami.

Sebagian dari kami memang seperti benar-benar tidak niat kuliah. Kalopun ada yang benar-benar kuliah mungkin itu kesalahan prosedur.

Kami pernah melakukan kenakalan. Sebagian dari kami plagiat tugas dari salah satu teman hingga akhirnya kami dipanggil oleh dosen. Jelas dimarahi. Itu kami lakukan pada semester awal. Sebagian dari kami membolos pada salah satu pelajaran hanya untuk mengikuti kegiatan futsal. Parahnya lagi, yang bermain hanya sebagian namun yang lain mengaku sebagai suporter. Alhasil dosen tersebut marah tak karuan.

Ada lagi yang lebih unik. Sudah tau ada jadwal presentasi, bukannya hadir presentasi malah kami merokok di kantin. Jelas, dosen tersebut ngamuk. Sudah tau telat masuk, bukannya meminta maaf pada dosen malah memberi segelas teh pada dosen tersebut. Jelas, dosen tersebut ngamuk. Sudah tau ada yang disuruh jemput dosen, malah ndak dijemput. Akhirnya kelas kami kosong. Besoknya dosen tersebut jelas marah dan ngamuk.

Itu belum seluruhnya. Kami pernah hampir bertengkar dengan kakak-kakak kelas hanya masalah himpunan. Padahal masalahnya kalo dipikir ya sepele. Tapi beruntung ada ibu dosen yang mau melerai kami. Kami pernah ngamuk dengan adik-adik kelas karena masalah futsal. Lagi-lagi masalahnya sepele. Kami kalah dari mereka.

Kami pernah merasakan harus berebutan sinyal internet hanya gara-gara berebut jadwal mata kuliah. Sudah nilai KHS tidak tuntas, kok mengurus KRS malah dilepas. Ya itulah generasi-genarasi awal.

Mungkin hampir sebagian dari kami melakukan kecerobohan termasuk dalam penulisan proposal magang. Terutama pada paragraf pertama dan kalimat pertama. Ya, hampir sebagian bahkan mungkin semua menuliskan kata dan kalimat tanpa mengubah bentuk apapun. Tapi ya itulah kami.

Kami pernah kehilangan beberapa teman terbaik kami.

Almarhum kakak Albert. Beliau adalah sosok yang selalu riweh kalo dalam hal futsal. Tapi itu memang gayanya. Dan saya selalu mengingat kata-katanya seperti ..

“Rek, awakmu kudu ngene lek main. Gak isok lek ngono.”

Kami juga kehilangan sahabat terbaik. Almarhum Angga. Mungkin kalo ndak ada dia, kita gak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi juara 1 olahraga Basket di FISIP UB. Dia yang waktu itu berkata..

“Hey rek, lek main seng nggenah. Kok kiro aku Tuhan a kok dikongkon main dewe?”

Hey teman, semoga kalian sedang tersenyum di alam sana. Sepurane lek ngrasani.

Sebagian dari kami ada yang terlibat cinta lokasi. Ada yang sampai pacaran kemudian putus di tengah jalan. Ada yang sampai pacaran kemudian menikah. Namun ada yang lebih unik. Ada yang belum sampe pacaran tapi menganggap itu sudah seperti pacaran. Tentu saya tak akan menyebutkan siapa-siapa itu. Karena mungkin kamu termasuk pengamat bahkan pelaku.

Itu memang kekonyolan-kekonyolan yang terjadi pada kami. Tapi saya selalu percaya. Dengan tidak mengecilkan peran adik-adik kami, ketiga generasi awal dari kami yaitu generasi 2007, generasi 2008 dan generasi 2009 adalah generasi yang telah merasakan bagaimana susah dan senangnya berada di jurusan HI. Generasi yang paham seluk beluk baik dan buruknya HI. Kalo saya salah, monggo disanggah.

Tentu saja jika kami diizinkan bertemu kembali dalam satu waktu dan satu tempat, mungkin akan ada banyak cerita yang lebih banyak. Dan saya yakin para dosen jika diberi kesempatan maka mereka juga akan mengeluarkan cerita tentang kejengkelannya terhadap kami. Tentu saja kami akan tertawa, tersenyum dan mungkin sedikit malu.

Tentu saya tak mungkin menceritakan seluruh aib, kekonyolan, dan kesenangan disini. Tak akan ada habisnya. Karena setiap dari kami pasti memiliki cerita. Cerita yang tentunya memiliki tangis, tetes air mata maupun tawa bahagia.

Ini hanya sebagian dari kerinduan kami kepada jurusan tercinta. Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Jurusan yang nantinya akan melahirkan generasi-generasi lebih hebat daripada kami. Jurusan yang selalu terus berkembang dari tahun ke tahun. Dan jurusan terbaik yang pernah kami jalani. Kami selalu percaya akan hal itu.

HI One, HI Hail !!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s