Yogyakarta Rasa Jakarta

tugu-ok

nknownman-photography/kotajogja.com

Jogja Istimewa. Saya kira tak ada yang sanggup menyanggah slogan tersebut. Yogyakarta memang benar-benar istimewa. Mulai dari budayanya, orangnya, bahkan tempat wisatanya.

Banyak lagu yang mengungkapkan bagaimana indah dan eloknya Yogya. Mulai dari KLa Project ‘Yogyakarta’, Jogja Hip Hop Foundation ‘Jogja Istimewa’ hingga grup musik indie macam Everyday ‘Kapan ke Jogja Lagi’. Semua lagu tersebut mengungkapkan Yogya sebagai kota rindu dan bahagia bercampur haru menjadi satu.

Yogyakarta memang Istimewa. Dari sekian banyak kota di Indonesia, hanya dua kota yang mendapatkan sebutan Daerah Istimewa. Selain Aceh, satu lagi ya Yogya. Keistimewaannya tercermin bagaimana Yogya pernah menjadi wilayah perjuangan bagi Indonesia.

Yogyakarta bahkan pernah menjadi Ibu Kota Republik Indonesia, walaupun hanya dalam rentang waktu singkat. Hanya empat tahun dari 4 Januari 1946 hingga 27 Desember 1949.

Kalau mau membaca sejarah Yogya tempo dulu, silaken anda menelisik tulisan yang epik dari Abdurrahman Surjomihardjo tentang Sejarah Sosial dari tahun 1880-1930. Atau, mungkin bagi anda yang ingin mengetahui asal-usul penamaan Yogyakarta dan Malioboro, silaken membaca tulisannya Peter Carey, sejarawan asal Inggris.

Itu tadi sedikit ulasan tentang Yogya. Sekarang saya mau nanya, (masih) pantaskah Yogya menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia?

Ya, belakangan ini, banyak berita yang gencar untuk menggantikan kedudukan Jakarta sebagai ibu kota. Ada beberapa kota yang digadang-gadang layak menjadi ibu kota, antara lain Surabaya, Semarang, Yogyakarta, hingga Palangkaraya.

Namun, menurut pengamatan saya – sekali lagi pengamatan saya – hanya Yogya yang pantas menjadi ibu kota. Ini keputusan subjektif. Mengapa saya bilang begitu? Karena saat ini Yogya memiliki kemiripan khusus dengan Jakarta. Baiklah, saya beri empat alasan mengapa Yogya (masih) pantas menjadi ibu kota negara.

jogjapos-com-ok

jogjapos.com

1. Macet

Kamu merasakan ndak beberapa tahun belakangan ini Yogya macet? Mau ke sana macet, mau ke sini padet. Akhirnya ada rekayasa lalu lintas seperti di Jl Tirtodipuran dan Jl C Simanjuntak. Dan, tampaknya akan ada rekayasa lalu lintas berikutnya. Entah daerah mana yang akan menjadi ‘korban’-nya.

Kalau Jakarta dipenuhi oleh pekerja, sementara Yogya dipenuhi pelajar. Bayangkan saja setiap pelajar selalu membawa kendaraan sendiri. Padahal, jumlah pelajar kian bertambah, bahkan lebih banyak yang menetap di Yogya. Keadaan ini diperparah, karena Yogya minim transportasi publik yang mumpuni.

Selain itu, jarak tempuh menjadi lebih panjang. Biasanya 20 menit. Kini menjadi 30 menit. Biasanya berangkat jam 06.30. Kini harus berangkat lebih pagi, paling lambat jam 06.15. Kalau nanti jalan lingkar (ring road) bertambah macet, berarti Yogya adalah imitasi Jakarta.

2. Apartemen dan Hotel

Wah, ini perkembangannya sangat cepat. Dulu sih penolakan cuma kepada hotel. Sekarang berlanjut ke apartemen. Saya tak akan menyebutkan apartemen mana yang telah dan akan dibangun. Cuma tak sedikit bahkan hampir sebagian pembangunan apartemen mendapat penolakan dari warga lokal.

Anda bisa lihat di berbagai sudut Yogya, banyak spanduk yang berisikan penolakan. Tapi kenyataan berbicara lain. Tetap saja apartemen kian bertambah. Bahkan, konon, sebagian apartemen sudah terjual. Sedikit ironi. Meskipun banyak penolakan, namun banyak pula peminat apartemen.

Kalau hotel, wah ini sudah jamak. Penolakannya banyak sekali. Tapi ya itu. Kalaupun dibangun, ya tetap laris hotelnya. Apalagi kalau jadwal libur panjang. Bisa dipastikan hampir semua hotel telah habis dipesan.

Jumlah hotel mencapai 1.160. Itu catatan Perhimpunan Hotel tahun 2013. Jumlah itu jelas bertambah. Dan, ndak mungkin berkurang. Karena sesungguhnya mengurus perizinan seperti itu lebih mudah daripada izin cuti liburan kantor.

3. Mal

Dulu mungkin anda hanya mengenal dua mal yang berdiri megah di Yogyakarta. Kalo ndak Mall Malioboro, ya Galeria. Sekarang sudah lebih banyak. Ada Ambarukmo Plaza, Jogja City Mall, Lippo Plaza, Sahid Mall, dan Hartono Mall.

Konsepnya malah jadi satu kayak di Jakarta. Apartemen, hotel, sekaligus mal. Kalaupun banyak penolakan, itu wajar. Toh, nantinya banyak juga yang memenuhi mal tersebut. Pelajar mana yang tak tergiur dengan mal di era saat ini?

4. Banjir

Nah ini keluhan juga dari masyarakat Yogya dan sekitarnya. Ada yang bilang curah hujan yang terlalu tinggi. Ada juga yang bilang pemanasan global. Tapi tak jarang, ada yang bilang kalau banjir adalah efek domino dari alasan No 2 dan 3.

Entah kebetulan atau secara tak sengaja, memang pusat-pusat banjir berada di lingkungan apartemen, hotel, dan mal. Mungkin mereka lupa tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Ah, tapi tak mungkin. Wong, kalau pembangunan apapun harus melewati syarat AMDAL yang ketat.

Tapi kenapa bisa terjadi banjir? Hanya pengembang dan pemerintah yang tahu jawabnya.

Nah, alasan-alasan di atas adalah jawaban yang boleh dikatakan tepat untuk dijadikan pedoman pemerintahan kita. Pedoman untuk menyeleksi manakah kota yang pantas dijadikan ibu kota baru bagi Indonesia. Ini serius.

Jadi sudah siapkah warga Yogyakarta menjadi warga ibu kota?

Tulisan ini dimuat voxpop.id pada tanggal 19 Desember 2016

Advertisements

2 thoughts on “Yogyakarta Rasa Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s