Sheila On 7

Sheila on 7. Bagi saya sheila on 7 adalah kebanggaan. Tidak hanya bagi saya, kamu, Jogjakarta melainkan juga untuk Indonesia. Band yang terbentuk pada tahun 1996 kini menapaki 20 tahun karirnya.

Album pertama yang muncul pada tahun 1999 langsung meledak di kalangan generasi saya. Lagu Dan adalah salah satu lagu yang paling ngehitz. Hampir semua orang pada generasi saya tak ada yang tak tahu lagu Dan. Dulu demi menonton video klip lagu Dan, saya rela nyolong waktu untuk menonton tv di ruang perpustakaan saat pesantren kilat SD berlangsung. Lebay? Wong, namanya juga suka. Apapun dilakukan.

Saya tidak sendiri. Teman-teman saya banyak yang mengikuti langkah saya. Ternyata memang generasi seumuran saya tergila-gila dengan Sheila On 7. Dan mungkin juga kamu yang membaca status saya ini.

Saya jadi ingat ketika pada 26 Oktober 2011, kami selaku Homeband Fisip UB ingin membuat acara peluncuran album perdana Homeband Fisip UB dengan mengundang salah satu band nasional. Sheila On 7.
Saya masih ingat ada 2 teman saya yang mengusulkan untuk mengundang Sheila On 7. Alhasil, cibiran pun datang dengan beraneka ragam.

Saya bahkan mendapat cibiran ketika mencoba menjualkan tiket kepada salah satu dosen saya. Ia berkata, “Ngapain Mod mengundang band di zaman saya? Emang nanti ada yang nonton?. Tentu saja gelak tawa tercipta diantara kami walaupun saya agak sedikit dongkol. Tapi mau bagaimana lagi memang jarang pentas seni yang mengundang Sheila On 7.

Ada yang bilang band tak laku. Ada yang bilang band usang. Dan yang lebih mencengangkan ada yang bilang band tahun 90an sudah ndak jaman di masa kini. Tentu mereka sebagai minoritas harus berdebat dengan mayoritas ingin mendatangkan salah satu band nasional juga yang cukup meledak pada tahun tersebut. Tentu saya tak akan menyebutkan siapa band tersebut.

Namun pada akhirnya, setelah rapat berulang kali, kami sepakat untuk mendatangkan Sheila On 7. Ketegangan, keresahan, dan kecemasan memang sedikit melingkupi kami. Ini jelas resiko. Mengundang band usang yang mungkin hanya bisa dinikmati generasi saya bahkan dosen-dosen saya.

Namun tanpa diduga. Ketika kami menjual tiket sebanyak 2000 tiket, seluruhnya ludes terjual. Hanya dalam hitungan hari. Kemudian kami menjual lagi 1000 tiket hanya beberapa jam menjelang konser dimulai. Tahu apa yang terjadi?

Waktu itu saya kebagian untuk menjadi penjaga tiket. Loket baru dibuka pada pukul 9 pagi. Namun antrian mengular sejak jam 7 pagi. Saya pikir gila juga. Ternyata masih banyak fans sheila on 7 di Malang. Ketika loket mulai dibuka, tiket mulai dibeli dengan maksimal 10 tiket untuk 1 orang. Dan hanya dalam 2 jam, 1000 tiket ludes terjual. Top berbintang.

Kerumunan mulai menyemut menjelang maghrib. Para penonton tampak antusias. Ada yang pake kaos Sheila Gank. Ada yang pake blangkon. Ada yang pake kaos I love Jogja. Ada pula cabe-cabean. Dan ada pula keluarga cemara.

Beberapa dari kami yaitu anak-anak Homeband FISIP UB unjuk kebolehan dengan membawa lagu ciptaan sendiri. Ini juga menjadi ajang promosi bagi Homeband FISIP UB. Terutama kepada masyarakat Malang.

Setelah kami ‘pamer’ dalam waktu 1 jam, tiba saatnya band utama tampil. S07. Formasi lengkap yang terdiri dari Duta, Eross, Adam, dan Brian. Tersenyum dan tertawa serta tingkah kocaknya.

“Talames Malam, Kera-kera Ngalam!!!!”

Teriakan Duta disambut dengan gemuruh penonton. Tepuk tangan. Teriakan. Lambaian. Atmosfer yang luar biasa. Saya saja merinding. Akhirnya lihat S07 kembali.

Mereka menghentak dengan lagu “Pasti Ku Bisa”. Sayangnya, banyak dari mereka tak begitu hafal dengan lagu ini. Alhasil masih banyak yang belum jingkrak-jingkrak. Hanya berdiri dan terpaku diam karena pesona S07.

Ketika lagu BKTDS (Bila Kau Tak Di Sampingku) dengan ketukan drum dari Brian yang cukup khas, penonton mulai menyanyi serempak tanpa dikomando oleh Duta. Sepertinya mereka hafal di luar kepala untuk menyanyikan lagu tersebut. Termasuk dosen saya.

Berturut-turut lagu Kita, Seberapa Pantas, Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki dinyanyikan oleh Om Duta. Ketika lagu DAN hanya dimainkan oleh hentakan drum dari Brian, semua penonton bernyanyi. Duta dan Eross pun hanya tersenyum lalu duduk bersimpuh. Seketika itu juga, penonton teriak histeris dan suara mereka lebih kencang. Tak hanya penonton bahkan kami sebagai panitia larut ke dalam suasana tersebut.

“Malaaaang!!!”

Lagi-lagi teriakan Duta disambut histeris penonton. Saking histerisnya di depan saya, ada yang mencium lambang S07 sambil menangis.

Ketika saya keluar dari panggung, saya melihat ada seorang ibu terduduk sembari memegangi perutnya. Rupanya ibu tersebut sedang hamil. Kemudian saya mendekat dan bertanya.

“Maaf ibu, ada keperluan apa bu?”

“Maaf mas sebelumnya, saya kangen S07, sudah lama ndak ngeliat S07 manggung di Malang. Tapi saya nggak sanggup berdiri, saya duduk di dekat pintu aja. Kasian calon bayi saya, mas.” Ujar ibu tersebut sembari memegang perutnya.

“Saya diantar suami saya, ia ndak ikut. Saya cuma disuruh duduk disini aja dan ndak boleh masuk sama suami saya mas. Maaf mas, saya boleh minta tolong?”

“Apa yang bisa saya bantu bu?”

“Saya lagi ngidam mas, kalo bisa nanti Mas Duta cium perut saya. Harapannya kelak anak saya bisa jadi seperti Mas Duta.” Ujar ibu sembari memohon.

Deg. Glek. Mulut saya terkunci. Bingung mau jawab apa. Tak menyangka ada fans semacam ibu tersebut. Kalo dibiarkan, kasian ibunya. Konon katanya kalo ngidam harus diturutin. Ntar takut anaknya ileran. Tapi kalo dibolehkan, caranya begimane. Terlebih penjagaan ketat dari bapak-bapak satpam.

Kemudian, saya bilang ke salah satu bapak satpam. Mengutarakan maksud saya. Bapak satpam tersebut kemudian mengantarkan ibu untuk pindah ke pintu VIP. Harapannya agar Om Duta dapat dicegat dan bersedia untuk mencium perut ibu tersebut.

Saya kemudian masuk kembali. Ternyata sudah lagu terakhir. Melompat Lebih Tinggi. Wah gila. Benar-benar luar biasa S07. Personelnya lompat-lompat semua.

“Terima kasih Malang!!!”

Ucapan yang diteriakkan Om Duta menandai berakhirnya konser S07 di Malang. Konser yang luar biasa. Fantastis. Legenda. Setelah hampir 5 tahun lamanya tak ke Malang, S07 berhasil menuntaskan dahaga dari Sheila Gank (sebutan bagi fans Sheila On 7). Semua yang hadir tampak pulang dengan teratur dan bahagia. Penonton, panitia, satpam, bahkan ibu tersebut pulang dengan senyum sumringah.

“Dan, apabila esok, datang kembali”

Petikan lagu tersebut memang benar adanya. Akhirnya banyak pentas seni mengundang SO7 sebagai band utama. Terutama pada minggu-minggu berikutnya. Dan terutama di kota Malang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s