Sepakbola ala Mas Dedy

Gara-gara melihat tendangan pisang ala David Beckham, tiap sore saya mencoba dan menirunya di lapangan sebelah rumah. Namun berulangkali saya gagal. Tendangan saya tak kencang. Tak terarah. Bahkan mencoba menendang  jauh pun tak bisa dilakukan.

Ayah saya tampak tertawa kecil jika usaha saya selalu gagal. Mungkin karena perasaan iba, saya disuruh mengikuti klub sepakbola yang ada di UNY. Puspor FC. Saya masuk ke klub tersebut pada usia 10 tahun. Usia yang bertepatan dengan masuknya millenium baru. Saya ikut bersama adik saya yang pertama. Tujuannya satu. Jago menendang ala ala David Beckham.

Masuk di klub tersebut, saya dilatih oleh orang yang sangat fantastis. Dialah yang nantinya mengajarkan saya bagaimana teknik menendang, menggiring, bertahan, maupun menyerang dalam sepakbola. Namanya Dedy. Bertopi dan selalu menggantungkan peluit di lehernya. Tubuhnya sedikit tambun namun jangan ditanya jika dia disuruh menggocek bola. Lincah dan lihai.

Pertama kali saya masuk ke klub tersebut, saya sudah disuruh menendang dengan menggunakan telapak kaki dalam. Baik kanan maupun kiri. Bola yang digunakan hanya ¾ dari bola sepak biasanya. Mungkin karena kami masih kecil makanya bola yang digunakan juga kecil. Latihan tersebut dilakukan selama 10 menit. Hasilnya tidak jelek tapi juga tidak bagus. Yang penting bolanya sampai ke pemain lawan.

Setelah itu, kami dibagi dalam 2 tim. Saya satu tim bersama adik saya. Saya berada di posisi striker dan adik saya berada di posisi gelandang kiri. Pertandingan tersebut menjadi awal yang baik bagi saya maupun adik saya. Saya mencetak 1 gol sedangkan adik saya mencetak 4 gol. Bagi pemain baru yang berada disitu, hal tersebut merupakan sesuatu yang spektakuler. Terutama bagi adik saya. Selepas pertandingan tersebut, saya berjanji akan menjadi pemain sepakbola profesional yang baik. Impian yang mungkin sama dengan anak-anak lelaki usia saya.

Latihan demi latihan digembleng oleh Mas Dedy. Ia tak henti-hentinya menyoraki kami jika kami melakukan kesalahan. Kalo topinya sudah diangkat dan dia mulai merapikan rambutnya, itu tandanya dia agak jengah dengan etos kerja kami. Kalo sudah begitu, ia sesekali mencontohkan bagaimana latihan yang benar dan baik.

Setiap pemain pasti punya baju masing-masing. Warnanya biru-kuning. Karena saya bermain sebagai striker, tentu saya memilih no.10. Sayangnya, no tersebut sudah digunakan oleh anak lain. Saya sedikit tertunduk lesu. Namun saya tak kehilangan akal, saya mendapat inspirasi dari Ivan Zamorano. Legenda Inter Milan asal Chile. Waktu itu ia ingin menggunakan no 9. Sayangnya, no tersebut sudah digunakan Ronaldo. Lantas ia menggunakan no 1+8. Nah itu menjadi inspirasi saya dalam membuat nomor. Lantas, saya usul untuk dibuatkan nomor yang mirip dengan Ivan Zamorano. Namun, saya sedikit memodifikasinya. 9+1. Dan ternyata no tersebut disetujui Mas Dedy.

Saya mungkin menjadi satu-satunya anak yang memiliki nomor nyeleneh. Toh, Puspor pun bersedia membuat baju bola sesuai pesanan saya. Saya sedikit bersyukur.

Mas Dedy sangat jeli dalam menempatkan pemainnya. Adik saya yang awalnya pemain gelandang kiri kemudian dipindahkan menjadi kiper. Mungkin ia melihat reflek adik saya cukup baik. Begitu pula dengan saya. Awalnya saya berposisi menyerang, namun saya disuruh menjadi gelandang bertahan. Saya sempat kikuk. Toh, badan saya sangat kurus dan kecil. Apalagi kalo disuruh berduel dengan pemain yang lebih besar. Pasti saya keok. Tapi, Mas Dedy selalu menyemangati dan memberi trik-trik bagaimana menjadi gelandang bertahan yang baik.

Dan akhirnya pun saya menikmati peran tersebut. Begitu pula dengan adik saya. Bahkan adik saya pernah menyabet kiper terbaik dalam sebuah turnamen di UNY. Dia pernah menahan 4 tendangan penalti dalam drama adu penalti. Sedangkan saya mulai mengerti kenapa saya ditempatkan di gelandang bertahan oleh Mas Dedy. Kaki sebelah kanan saya yang sedikit lebih panjang daripada kaki kiri menjadi penyebabnya. Katanya itu menjadi kelebihan saya dalam mengambil bola dari pemain lawan.

Saya kadang agak aneh dengan cara berpikir mas Dedy. Keputusan dalam menempatkan pemain, metode latihan yang terkadang unik dan pilihan strategi pada saat sebuah pertandingan resmi. Tapi kami semua anak selalu hormat dengan apa yang diucapkan oleh Mas Dedy.

Saya jadi berpikir, seorang pelatih pasti selalu jeli dan berani dalam hal mengambil keputusan. Dan keputusan tersebut meskipun aneh, tapi pelatih berani jamin bahwa yang dilakukannya adalah benar. Dan Mas Dedy mampu melakukan tersebut.

Sekarang Mas Dedy mungkin sudah pensiun. Atau mungkin masih aktif melatih sepakbola. Saya tak tahu kabarnya. Saya hanya bertahan di Puspor selama 2 tahun. Ibu saya melarang melanjutkan aktivitas bola karena saya dihadapkan unas SD. Tapi saya sangat berhutang budi dengan Mas Dedy. Ia yang mampu mengetahui dengan detail kelebihan dan kekurangan setiap anak. Dan disaat selesai latihan, Mas Dedy selalu menasehati anak-anaknya dengan sebuah kalimat.

“Kalo bermain bola, bermainlah dengan bahagia”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s