Menunaikan Rindu di hari Minggu

Roda Kehidupan selalu berputar. Senjakala telah tiba. Satu per satu manusia mulai menapaki tiap level kehidupannya. Salah seorang teman yaitu Sigit Purnomo, eh maksudnya Sigit Nugroho, telah naik level. Cak Nun pernah mengatakan bahwa di dunia ada empat level. Lahir, Menikah, Beranak, dan Mati. Nah, Sigit telah naik ke level kedua, yaitu menikah. Ia menikah dengan wanita pilihannya yaitu Wachidah atau biasa dipanggil Achi. Konon katanya, Sigit dan Achi telah “pacaran” selama kurang lebih 9 tahun. Luar Biasa.

Undangan Sigit akan menikah beredar 2 minggu sebelumnya. Grup “Kita Hore-Hore” antusias menyambut pengumuman tersebut. Ada yang kaget, bahagia, percaya maupun tidak percaya. Namun dari beragam ekspresi yang diungkapkan teman-teman, ada cara unik dari Sigit untuk menyebarkan pengumuman tersebut. Satu per satu orang dijapri dan diberi undangan(foto) sesuai dengan nama yang tertera. Saya berpikir mungkin ada yang tidak diundang dalam grup tersebut. Makanya ia rela japri satu demi satu. Tapi ternyata diundang keseluruhannya. Sungguh Sigit adalah orang yang mulia dan tentunya selow.

Tanggal 28 Agustus 2016. Saya dan istri berencana hadir pada hari paling bahagia untuk Sigit dan Achi. Keberangkatan kami dibarengi dengan Boss Aham dan Mbah Reisa. Seperti kisah-kisah sebelumnya, janjian tidak sesuai dengan kenyataan. Janjian jam setengah 9 namun kita baru berangkat jam 10. Ndak papa. Itu namanya warna-warni kehidupan.

Sesampainya disana, terlihat matahari sedang asyik-asyiknya bercengkrama dengan langit Mbantul. Terik panas seakan menyelimuti seluruh area pernikahan. Namun, (lagi-lagi) Sigit memiliki ide brilian. Oleh-oleh tangan yang diberikan kepada pengunjung berupa kipas. Cocok. Cerdas dan Brilian.

Pengunjung dipersilahkan duduk pada tempat yang telah disediakan. Begitu duduk, para sinom sudah siap dan sigap. Kami langsung diberi minuman teh dan snack yang berisi 4 kudapan. Para sinom terdiri dari anak-anak muda yang berpakaian rapi dan menarik. Pria menggunakan kopyah dan batik berwarna coklat. Sedangkan wanita menggunakan kerudung hitam dan blouse berwarna biru.

Pengkhotbah nikah telah beraksi sejak kehadiran kami. Inti khotbah adalah; kalo sudah menikah, apapun menjadi berkah. Mau pegangan tangan, mau meremas kaki, buka baju bareng bahkan mandi bareng itu berkah dan nikmat yang luar biasa. Lalu, gimana malam pertamamu, Git ? Semoga sukses dan terkendali.

Durasi sekitar 30 menit diakhiri dengan doa oleh pengkhotbah nikah. Para sinom bersiap 3 banjar. Dengan tangkas dan telaten, seluruh undangan dibagi satu persatu makanan yang telah disiapkan. Nasi dengan cetakan bunga mawar, gule sapi, kerupuk, dan es durian. Sajian yang memuaskan bagi para undangan utamanya Mbah Reisa. Begitu mendapatkan makanan, ia langsung menyantap tanpa sedetikpun menoleh kanan dan kirinya. Khusyuk dan teratur. Hanya dalam waktu 3 menit, santapan tersebut hilang ditelan perut. Top markotop Mbah Reisa.

Jam setengah 12 acara sudah berganti. Saatnya salam-salaman dengan mempelai pria dan wanita. Terlihat dari kejauhan, seorang pria melambaikan tangannya ke arah kami. Ternyata di depan ada rombongan anak-anak Sastra Arab 2009. Rombongan tersebut antara lain :

Hanif. Pria Mbantul yang memiliki gaya rambut seperti Ibrahimoldic. Konon katanya, ia adalah kapten dari Sastra Arab UGM 2009.

Nana. Gadis Cirebon yang memasang kawat di giginya. Ia menganggap dirinya seorang penggoda malaikat.

Irul. Anak Demak dengan rambut seperti Dul. Kalo yang ini, akademisi dan organisatoris.

Lida. Wanita Jogja yang segera menikah beberapa minggu kemudian. Nikmati masa lajangmu, Lida.

Erlin. Perempuan asli Temanggung yang bekerja di sebuah bank. Yang ini, bentar lagi juga menikah, selamat Erlin.

Galuh. Dara blasteran Riau dan Bandung. Yang paling antusias pada pernikahan Sigit dan Achi.

Reza. Jagoan yang berasal dari campuran Kebumen dan Rembang. Paling tinggi diantara rombongan yang lainnya.

Untuk saya, Novia, Boss Aham dan Mbah Reisa tidak perlu dijelaskan. Anda cukup membaca kisah-kisah sebelumnya.

Setelah bertukar sapa sejenak, kami berfoto ria bersama kedua mempelai. Yang unik dari foto kali ini adalah Sigit memfoto mempelai perempuan bersama teman-temannya. Ide brilian kali ini dipersembahkan oleh Hanif.

537e15d48b7964edc0f037c74b2fa380[1]

Foto kedua mempelai bersama teman-teman Sastra Arab 09 @Boss Aham

IMG-20160831-WA0000

 Sigit mengabadikan momen foto teman-teman Sastra Arab dan istrinya.

Acara foto-foto usai. Karena hanya bertukar sapa dirasa kurang, maka demi menuanaikan rindu dan berbalas cerita, kami memutuskan untuk jalan-jalan. Kali ini jalan-jalan kami menuju tempat dengan nama berdiksi sastra:  Bumi Langit. Semacam ‘secret garden’ yang menyediakan makanan organik untuk dinikmati bersama di belahan Imogiri Utara. Ada 3 mobil yaitu A,B, dan C. Avanza diisi Boss Aham, Mbah Reisa, Novia dan Saya. Brio diisi Irul, Hanif, Erlin dan Lida. Sedangkan Carimun diisi oleh Reza, Galuh dan Nana. Semua tampak antusias karena tempat tersebut belum pernah mereka kunjungi.

Semua tampak berjalan normal untuk menuju Bumi Langit. Letaknya sekitar 2 km sebelum hutan pinus Imogiri. Namun setelah melewati Bukit Bego, Reza sedikit mengalami kesulitan untuk melewati Tanjakan Cinta (sebut saja begitu). Mobilnya tiba-tiba ngadat. Naik susah, turun mudah. Mereka panik dan kami panik. Sedangkan Brio melenggang meninggalkan kami. Asap mulai mengepul diantara knalpot dan ban belakang kanan. Tanjakan curam membuat suasana terasa semakin menegangkan.

Nana dan Galuh terlihat panik. Bukan hanya karena takut mobilnya ngadat, melainkan juga karena khawatir ke-ngadatan-tersebut akan berimbas pada nasib na’as kedua gadis tersebut, sedangkan kedua gadis tersebut belum merasakan nikmatnya menikah. Boss Aham kemudian segera sigap untuk mengamankan. Sejurus kemudian, mobil tersebut hidup kembali dan ditepikan. Demi menjaga mobil tersebut prima, Boss Aham menitipkannya ke parkiran di bukit bego. Semua mengambil napas lega dan bersyukur telah melewati detik-detik mencekam pada tanjakan cinta.

Sesaat kemudian, kami ber7 tiba di Bumi Langit. Irul,dkk telah menunggu di depan plang Bumi Langit. Sampai disana terlihat pemandangan hijau nan bersih. Bumi Langit adalah tempat yang menyediakan makanan dan minuman organik. Tempat makannya asri, semilir angin membuat kami merasa makan bersama di halaman kami sendiri. Tempat ini juga menyediakan tur bagi siapa saja yang ingin belajar bercocok tanam. Anda patut mencobanya.

Kami hampir mencoba sebagian besar minuman yang unik. Kefir dengan tingkat keasaman yang luar biasa, jus Mulberry, Mint Serai, dan Kombucha (teh fermentasi). Raut muka tersaji dari beberapa teman. Namun, sembari ngobrol maka pesanan tersebut lenyap ditelan perut. Tak terasa obrolan berlangsung hampir 2 jam. Sudah saatnya balik ke kediaman masing-masing sebelum hujan menyapa.

IMG-20160828-WA0001[1]

Tertawa dan senyuman adalah hal yang membahagiakan kami semua. Karena itulah selalu Isilah Akhir Pekan dengan Keceriaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s