Tanggal 17

Tanggal 17. Tanggal yang mana saya selalu melakukan aktivitas seperti biasa saat malam hari. Aktivitas biasa tersebut mengikuti maiyahan di Bantul. Kegiatan di Bantul tersebut dinamakan Macapat Syafaat. “Bintang Tamu”nya adalah Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Acara yang diadakan secara kontinyu setiap tanggal 17 di Bantul. Di daerah lain juga diadakan kegiatan serupa namun dengan nama yang berbeda seperti Kenduri Cinta, Obor Illahi, ataupun Padang Bulan.

Pertama kali saya mengikuti kegiatan maiyahan sekitar  1 tahun yang lalu. Pada waktu itu, selain Cak Nun dan Kiai Kanjeng terdapat pula Sudjiwo Tejo, Candra Malik, dan Noe ‘Letto’. Selanjutnya, hampir tidak pernah saya melewatkan kegiatan setiap tanggal 17. Kegiatan yang berlangsung selama 7-8 jam. Kegiatan yang mampu membuat pendengarnya betah duduk maupun berdiri mendengarkan apapun yang dibicarakan. Kegiatan yang mampu membius penonton untuk menikmati kata maupun kalimat yang didengungkan oleh siapa saja yang berada di panggung. Sebenarnya bukan juga panggung karena jarak penonton dengan pembicara sangat dekat bahkan tinggi panggung hanya 50 cm.

Tidak ada peraturan dan tidak ada batas. Semua boleh saja mengutarakan pendapat, kritik, maupun saran. Anda boleh berbincang tentang permasalahan hidup, agama, perempuan, bahkan hingga sempak. Apapun yang dikatakan oleh pembicara di depan dapat menjadi ilmu. Apapun.

Menariknya adalah orang-orang datang secara sukarela tanpa pernah ada himbauan, ajakan, maupun perintah. Ada yang datang sepasang kekasih, ada yang bawa ponakan, ada kakek dan nenek namun tetap yang paling banyak pendatangnya adalah jomblowan. Ga tau kenapa tapi memang kenyataannya begitu. Anda lapar ? Warung banyak di sekeliling. Anda haus ? ada banyak jajanan minuman yang tersedia. Kegiatan tersebut mampu menghidupkan perekonomian warga setempat.

Penikmatnya tidak hanya berasal dari Jogja. Ada dari Wonosobo, Probolinggo, Madura, Jombang, Bekasi bahkan hingga Toli-toli. Tampaknya semua suku hadir dalam kegiatan tersebut. Tidak semua orang benar-benar mendengar apa yang dibicarakan. Ada yang sesekali bermain hape, ada yang malah tertidur di tengah acara, ada yang ngobrol dengan sebelahnya. Kalo beruntung, ya bisa saja anda menemukan jodoh. Contohnya seperti saya.

Beberapa orang mungkin bilang “Selow sekali duduk selama 7-8 jam mendengarkan siapapun yang di depan memiliki hak dan waktu untuk berbicara”. Saya berpikiran malah terbalik. Justru karena ke-selo-an tersebut orang-orang bisa jadi produktif. Di kegiatan tersebut, orang-orang seakan-akan diajak terus berpikir apapun. Mau persoalan apapun. Baik positif maupun negatif. Saya percaya bahwa orang yang berpikir adalah orang yang produktif. Entah apapun yang dipikirkannya. Ndak ada manusia yang ndak berpikir. Kecuali anda sudah wafat.

Saya kira ndak ada kegiatan yang ndak bermanfaat. Setiap kegiatan pasti memiliki manfaat. Mau anda ngopi semalam suntuk, ngobrol sepanjang hari atau apapun. Tergantung bagaimana kita mengolah pilihan-pilihan di dalam kegiatan tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita. Pilihan seperti apa ? Itu tergantung bagaimana anda bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut. Makanya jangan sesekali menghakimi orang “selow”. Justru orang “selow” bisa saja ‘berbahaya’.

Ndak percaya ? Coba saja tengok sebelah kanan dan kirimu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s