Untaian Cinta Moddie dan Novia (2)

Agak sedikit tersendat dalam penulisan jilid 2. Maklum lagi menikmati indahnya menjadi pengantin baru. Hehehe

3 Agustus 2015. Hari itu adalah hari Ahad. Ahad yang merupakan permulaan hari dari tiap minggunya. Hari itu juga adalah rentang/jarak seminggu setelah kehadiran saya di Parakan, Temanggung. Sebelum memutuskan untuk berangkat ke Parakan, saya diberi pertanyaan yang cukup serius oleh Ayah dan Mama. Intinya tujuan kita berangkat ke Parakan hanya sekedar silaturahmi saja atau sekaligus menyatakan keseriusan (melamar). Saya menjawab dengan tegas dan lugas bahwa saya ingin melanjutkan hubungan serius dengan Novia. Akhirnya kita bertiga yaitu Ayah, Mama, dan saya berangkat menuju kediaman Novia di Parakan.

Sesampainya di Parakan, kami disambut oleh bapak ibu dari Novia. Kami dijamu pelbagai macam makanan dan minuman. Aneka obrolan tercipta dan mengalir dengan sendirinya. Jantung saya berdebar karena pembicaraan mulai mengarah obrolan serius. Obrolan serius dimulai ketika waktu memasuki ashar. Novia yang dihadapan saya ditanya pelbagai macam pertanyaan oleh ayah. Kemudian, bapak ibu yang turut hadir juga ikut menanyakan kesiapan saya. Alhamdulillah seiring berjalannya waktu obrolan tersebut berangsur-angsur selesai. Pada intinya, kami menyepakati jika Tepat pukul 17.00, kami pamit ke Jogja untuk melanjutkan perjalanan.

Dua minggu setelah kedatangan kami ke Parakan, keluarga Novia mengunjungi keluarga kami di Jogja. Seingat saya, rombongan dari Parakan ada bapak, ibu, kakek, nenek, paman dan tante Novia. Obrolan mengalir seperti biasa. Namun, masih ada rasa sungkan untuk menginjak obrolan serius. Pada akhirnya obrolan serius dimulai dari nenek Novia yang mengatakan alangkah lebih baiknya jika pernikahan dilangsungkan setelah tesis selesai. Saya lega, ayah dan mama juga bernafas dengan kelegaan yang luar biasa. Tawa dan canda mulai mengiringi obrolan seakan kami semua adalah teman yang sudah lama tak bersua. Menjelang isya, keluarga Parakan pamit untuk kembali ke Parakan. Kami senang begitu juga dengan keluarga dari Parakan.

Hari berganti hari. Novia dan bapaknya mempersiapkan diri untuk menunaikan rukun islam yang ke 5 yaitu haji. Rentang waktu yang berkisar 40 harinya membuat kami hanya berkomunikasi via media sosial. Dan saya baru menyadari bahwa lagu RAN yang berjudul “Dekat di Hati” sangat mengena dalam hubungan kami. Hehehe

Sepulang dari haji bulan September, saya sowan kembali ke rumah Novia. Sekedar memberi ucapan selamat dan tentu saja bertemu dengan pujaan hati. Saya tidak ada perasaan apa-apa hingga setelah saya pulang ke Jogja, Novia gundah gulana. Saya agak heran dengan untaian WA dari dia. Akhirnya dia menelepon saya dan mengatakan bahwa sebaiknya menikah secepatnya karena saran dari bapaknya dan kalo bisa sebelum tesis selesai. Saya hanya terdiam tanpa membalas satu katapun untuk dia hingga perbincangan tersebut diselesaikan oleh saya secara tiba-tiba.  Saya hanya termenung di tempat tidur dan berkontemplasi. “Kira-kira apa yang harus saya lakukan?”. Jikalau mengutarakan maksud Novia kepada ayah dan mama mungkin beliau akan kaget dan terheran-heran. Ya jelas heran, tempo hari telah disepakati nikah setelah tesis namun kok ini bapaknya menginginkan nikah sebelum tesis. Tanya kenapa ???

Hari berlanjut. Saya masih belum bisa memberi jawaban kepada Novia dan saya pun juga belum berani berbincang kepada ayah dan mama. Saya masih butuh saran dari teman-teman terdekat. Abdul Hair adalah orang pertama yang saya tanyai pendapat tentang pernikahan. Dia hanya mengatakan setuju jika saya menikah sebelum tesis. Perasaan saya berkecambah. Apakah ini memang waktu yang tepat bagi saya untuk menikah. Saya jadi sering menonton dan mendengar siraman rohani seperti mama Dedeh. Hahaha.

Awal Desember saya meyakinkan diri sendiri bahwa insya allah saya siap menikah. Tentu saja setelah melalui tirakat pelbagai macam. Saya berkata kepada ayah dan mama menjelang saya kembali mengunjungi Parakan. Saya mengatakan sejujur-jujurnya dan maksud saya kepada ayah dan mama. Ayah saya hanya mengatakan “jika ingin serius maka segera dijemput”. Saya bertandang ke Parakan dan sepanjang perjalanan saya hanya berdoa dan pasrah kepada Allah SWT.  Jika ikhtiar sudah diusahakan maka biarkan doa dan takdir bertarung di langit.

Saya tiba di Parakan sekitar pukul 10.00. Di rumah terdapat anggota keluarga yang lengkap. Ada bapak, ibu, Asyhar dan tentunya Novia. Seperti biasanya, saya dipersilakan duduk dan memulai pembicaraan dengan saling tukar kabar. Kabar di jogja dan di Parakan. Hari itu berjalan seperti biasanya. Awan Mendung memayungi langit Parakan pada siang hari. Saya pikir akan terjadi hujan. Namun ternyata hingga pukul 14.00, hujan tak kunjung tiba. Andaikan hujan tiba, setidaknya hati dan pikiran saya agak tenang. Maklum, gugup luar biasa akibat pikiran yang macam-macam di benak saya. Baik itu positif maupun negatif.

Pukul 13.15. Sesaat setelah makan siang, kami berkumpul di ruang keluarga. Pembicaraan langsung menuju tahap serius. Bapak mengatakan jika ingin serius segera dinikahkan. Apalagi Novia sudah banyak yang mengincar. Maklum saja, Novia adalah seorang perempuan yang cantik, baca dan hafal Al Qur’an cukup jelas dan lancar, jebolan Gontor dan UGM, dan yang paling gres ia baru saja pulang menunaikan ibadah haji. Oh iya, ia saat ini sedang melanjutkan kuliah S2 di universitas yang sama. Tentu saja, banyak pria yang ingin segera menikahinya. Sedetik kemudian saya ditanya secara serius oleh bapaknya. Kesiapannya dan jika nikah sebelum tesis akankah mengganggu perkuliahan.  Saya sudah menduga akan timbul pertanyaan yang seperti itu. Namun dari awal saya belum menyiapkan jawaban yang tepat. Kemudian…

Saya hanya mengatakan saya siap jika nikah sebelum tesis. Sejenak menghela napas dalam-dalam. Kemudian jika sowan ke ayah saya maka ayah pasti akan menyerahkan segala urusan pernikahan ke saya. Hal ini dipandang karena saya yang akan menjalankan biduk rumah tangga. Nah, untuk mama maka hal ini adalah persoalan lain. Selain mama adalah orang ibukota tulen, mama adalah orang yang paling ndak setuju jika menikah sebelum tesis. Uniknya, bapaknya Novia malah mengatakan itu menjadi urusannya. Bapak dan ibu akan ke Jogja sekaligus ngendikan dan meyakinkan mama bahwa nikah sebelum tesis itu ndak apa-apa. Urusan rejeki ? Sudah ada yang mengatur. Allah tidak akan mempersulit hambanya dalam memperoleh rejeki. Toh, jodoh, rejeki, dan mati sudah pasti diatur. Mendengar hal tersebut saya sedikit lega. Apabila bapak berhasil meyakinkan mama maka saya dan Novia akan melanjutkan jenjang pernikahan.

Bersambung …

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s