Untaian Asmara Moddie & Novia (1)

Tak kusangka saya akan memasuki fase menjadi seorang suami. Saya akan menjadi suami bagi istri dan insya Allah bagi calon anak-anak saya kelak. Tak kusangka, saya menjemput fase tersebut pada usia yang insya Allah cukup matang yaitu usia 25. Semoga saya mampu menempatkan fase tersebut sesuai dengan kapasitas saya dan mampu menempuh fase yang lebih lanjut dan lebih baik. Insya Allah.

10 September 2014. Seingat saya, tanggal tersebut bertepatan dengan hari Selasa. Hari kedua saya untuk menempuh pendidikan S2 KTT (Kajian Timur Tengah) di UGM. Saya bertemu dengan teman-teman baru. Rata-rata mereka adalah lulusan Sastra Asia Barat UGM. Dan yang paling membedakan dari saya diantara mereka adalah anak-anak tersebut mampu menggunakan (lanyah) bahasa Arab dengan baik. Eh, mereka juga pernah mengenyam di pondok pesantren kecuali saya tentunya. Saya masih ingat waktu itu saya mendapatkan mata kuliah Teori Agama Masyarakat yang diampu oleh salah satu dosen CRCS yaitu Pak Anchu. Perkenalan pun dimulai. Masing-masing tiap anak memperkenalkan identitas nama, asal S1, dan asli darimana termasuk saya. Kuliah pun segera dilangsungkan hingga menjelang sore.

Saya menjalani kuliah seperti biasanya. Maksudnya seperti S1 pada umumnya. Selesai kuliah, saya santai sejenak dan menjalankan ritual ngopi dengan tridente KBM yaitu Hair, Samid, dan Djarwo hingga menjelang dini hari. Begitulah ritual yang sangat sering saya lakukan pada semester 1. Kuliah berlanjut seperti biasa hingga presentasi awal S2 dimulai. Saya ingat, itu adalah hari rabu dengan mata pelajaran Agama-Agama Dunia yang diampu oleh dosen FIB yaitu Pak Mundjid. Saya berpartner dengan seorang perempuan yang selalu tersenyum ramah. Namanya Novia Rakhma Ramdhani. Panggilannya adalah Novia. Ia menjelaskan tentang Agama Hindu dan saya menjelaskan tentang agama Buddha. Saya cukup terkesima dengan penjelasan dan penalarannya. Saya pikir ia adalah seorang ustadzah yang cukup rajin saat kuliah S1 di Sastra Asia Barat UGM. Dan saya amat yakin bahwa anak tersebut akan menjadi wanita yang cukup pintar di jurusan KTT.

Sekali lagi, mata kuliah agama-agama dunia kembali menyatukan saya dengan Novia saat presentasi kelompok. Saya masih ingat satu kelompok bersama Shinta, Novia dan Aufa untuk menelaah agama Buddha. Presentasi tersebut cukup sukses dan berlanjut pada nilai yang sangat memuaskan pada mata kuliah tersebut. Alhamdulillah.

Anak-anak KTT 2014 sering melakukan perjalanan ke berbagai tempat wisata. Diantaranya adalah Dieng Wonosobo, Pantai Pok Tunggal Gunungkidul, Makam Imogiri, Air Terjun Sidoharjo Kulonprogo dan masih banyak yang lain. Nanti akan saya ceritakan yang tentunya kisah saya dengan Novia.

Awal mulai kedekatan saya dengan Novia ketika saya dipinjami motornya pada saat melakukan silaturahmi ke rumah Pak Syamsul Hadi. Pada saat pulangnya, saya memboncengnya hingga menuju ke rumah saya di belakang RS Sardjito UGM. Kemudian perjalanan berikutnya ketika kami anak-anak KTT 2014 ke Dieng Wonosobo. Saya duduk paling belakang pas sebelah kanan saya adalah Novia. Banyak cerita pada malam itu termasuk salah satunya ia menunjukkan jalan ke arah rumahnya kepada kita yang berada di Parakan. Ia sempat membujuk saya untuk berteman pada aplikasi media sosial yaitu Path. Namun saya menolak pada waktu itu, karena saya ingin membatasi teman-teman saya. Jaim rek. Hahaha. Walaupun pada akhirnya saya berteman di Path pada saat kita berada di alun-alun Magelang selepas dari Dieng.

Perjalanan berikutnya adalah ketika kami anak-anak KTT 2014 melakukan perjalanan ke air terjun Sidoharjo Kulonprogo. Saya membonceng Novia menggunakan motor butut saya. Meskipun tersesat dan melenceng jauh hingga saya dihujat habis-habisan oleh anak-anak, pada akhirnya kami tiba di lokasi tersebut. Bukan hanya melenceng jauh, kamera HP saya yang masih VGA menjadi satu-satunya alat untuk mengabadikan momen-momen luar biasa anak-anak termasuk saya dan Novia. Alhamdulillah.

Saya dekat dengan Novia hanya sekedar teman biasa. Itu pada awalnya. Mengapa begitu ? Karena ia telah mendeklarasikan kepada anak-anak bahwa dirinya akan menikah tepat 4 hari setelah saya ultah. Kami cukup antusias tapi dari hati kecil, saya berharap bahwa orang Jogjakarta yang dimaksud adalah saya. Walupun tentu saja, harapan tersebut kecil kecuali tangan Tuhan hadir untuk mengolah harapan saya.

Allah itu memiliki sifat Maha. Sifat yang tidak akan mampu disamai oleh ciptaanNya. Saya mulai sedikit demi sedikit mengirim pesan melalui WA. Awal mula percakapan tentang tembakau hingga pada akhirnya ia curhat bahwa ia telah selesai dengan calonnya. Bak durian runtuh. Saya percaya bahwa Allah hadir dengan tangan-tangan ajaibNya. Dan mungkin doa saya dapat diolah oleh Allah dengan sempurna. Saya girang tapi tidak dengan Novia. Ia sempat memberikan skrinsut percakapan terakhir dengan mantannya. Saya tersenyum. Namun untungnya, ia tak melihat senyuman saya. Kok senang diatas penderitaan orang lain. Tapi itulah yang terjadi pada saya saat itu.

Hari-hari berikutnya, saya mulai sering mengirim pesan ke Novia. Dan juga mulai mengajak jalan. Seingat saya, saya ada 4-5x keluar dengan dirinya. Salah satunya, saya mengajak makan bersama orangtua dan sodara-sodara saya di daerah RS Panti Rapih. Namun, percakapan paling lama dan berlanjut malam berada di Cuppajo daerah Seturan. Saya baru tahu kalo ia adalah alumni Gontor dan ia juga baru tahu kalo saya adalah anak HmI. Hari-hari berikutnya terjadi perdebatan yang mana saya sering memuja-muja HmI. Begitu juga dengan ia yang sangat membanggakan anak-anak Gontor. Pada akhirnya saya berkenalan dengan teman-temannya yang berada di Jogja seperti Reisa dan Hanifa.

Manusia yang cukup andil dalam kelangsungan saya dengan Novia adalah Nilna. Ia yang berusaha membujuk saya agar segera melamar Novia. Saya pun sempat gundah gulana. Hal itu ia katakan ketika anak-anak Grup tahajud (Nilna, Rapuncil, dan Sherly) pergi ke kebun buah Mangunan dan hutan pinus Imogiri. Terlebih saya diberitahu jika Novia akan melaksanakan rukun Islam yang ke 5 yaitu Haji. Saya sempat berpikir cukup dalam dan apa yang harus segera saya lakukan. Tuhan Maha Memberi Petunjuk.

26 Juli 2015. Ini adalah pertama kalinya saya bertandang ke rumah Novia yang letaknya di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah. Cerita kedatangan tersebut bermula dari tantangan Novia saat H+2 lebaran yang mengatakan bahwa jika ingin serius maka segera datanglah ke rumah. Saya pernah bertemu bapaknya dalam kondisi informal di kantor imigrasi Yogyakarta. Namun obrolan hanya bincang-bincang biasa dan tak ada yang menjurus ke arah serius. Oke Lanjut. Perjalanan menuju Parakan dapat ditempuh selama 2½ jam. Beruntung, karena di Malang saya sudah terbiasa melakukan survey maka saya tidak menempuh kesulitan dalam menemukan rumah Novia. Alhamdulillah.

Flashback sebentar. Sebelum saya bertandang ke rumah Novia, saya harus dilatih berbicara sama Novia. Ya, Mengapa Begitu ? Katanya, bapaknya lebih menghendaki jika obrolan menggunakan bahasa krama alus. Nah, Novia menyangsikan saya bahwa saya kurang mampu menggunakan bahasa tersebut apalagi saya lama di Malang dan terbiasa menggunakan kata-kata yang menurutnya kasar dan kurang enak didengar. Selain itu, saya juga diwanti-wanti jika pria-pria sebelum saya adalah orang-orang  yang pernah belajar di pondok pesantren, mampu mengaji kitab kuning, baca Al-Qur’an juga lanyah dan sebagainya. Sedangkan saya pernah mengenyam pondok pesantren yang kilat (3 hari). Itu pun karena saya pernah mengenyam pendidikan SD Muhammadiyah Sagan. Urusan mengaji yaa insya allah bisa namun ndak selancar yang di televisi biasa anda saksikan. Nah, kalo mengaji kitab kuning. Saya sama sekali belum pernah. Saya hanya bisa berdoa dan pasrah semoga saya diberi kelancaran, kelapangan, dan kemudahan dalam melakukan kunjungan ke rumah Novia.

Setelah sampai di rumah, saya disambut oleh bapaknya dengan ramah. Alhamdulillah saya pikir. Kemudian basa-basi sejenak dengan menggunakan bahasa krama alus. Seperti yang telah saya duga sebelumnya. Untung karena telah dilatih oleh Ustadzah Novia maka alhamdulillah saya mampu berbincang cukup lama dan baik. Menjelang zuhur tiba, saya, bapak, dan adiknya Novia beranjak ke Masjid. Saya sebenarnya diwanti-wanti sama Novia jika ke masjid menggunakan sarung. Tapi karena pada waktu itu bapak ga menyuruh menggunakan sarung ya saya hanya pakai celana panjang favorit. Setelahnya, kita makan siang bersama.

Nah, menjelang pukul 2 siang, ini yang ditunggu-tunggu. Kami semua berkumpul di ruang tamu denga duduk berhadap-hadapan. Dengan berpikir agar olahan kata saya cukup baik, satu tarikan nafas maka saya berujar, “Bapak, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih karena sudah diperkenankan singgah dan dijamu dengan aneka makanan dan minuman. Alhamdulillah. Kedua, saya menyampaikan salam dari bapak dan ibu dari Jogja, semoga pada lain waktu dapat singgah ke rumah bapak. Ketiga, saya dan mbak Novia sudah cukup kenal hampir selama satu tahun di UGM. Alangkah baiknya, jika ingin menginjak hubungan yang lebih serius maka saya siap menjalankan sunnah Nabi. Insya Allah jika berpijak surat Ibrahim ayat 7 tentang nikmat syukur dan al Hujurat 13 tentang manusia yang kodratnya berpasang-pasangan antara lelaki dan perempuan maka saya siap untuk menjalin hubungan serius dengan mbak Novia.” Begitulah perkataan saya dan uniknya saya menggunakan bahasa Indonesia. Subhanallah.

Bapak hanya mengatakan jika ingin serius maka disegerakan. Perkara rezeki itu datangnya dari Allah dan yang penting saya hanya fokus dengan kuliah saya. Begitulah isi pesan dari Bapak Ahmad Romadlon kepada saya. Setelah pembicaraan serius tersebut, maka saya beranjak pamit undur diri dan ingin melanjutkan perjalanan ke Jogja. Tak lupa sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang begitu besar kepada keluarga Bapak Romadlon. Singkat cerita , saya sampai di Jogja dengan selamat.

Novia cukup takjub sekaligus heran, kok bapaknya ndak nyuruh saya pake sarung, ndak nanya sudah ngaji sampai mana, ndak nanya bisa bahasa Arab atau ndak. Ia hanya mengatakan bapakanya senang dengan niat dan maksud kehadiran saya. Ini bukan klaim. Monggo nanti ditanyakan ke Novia. Hehehe. Saya ditanya macam-macam oleh ayah dan mama saya. Saya jawab demikian adanya. Luar biasa tanggapan ayah dan mama. Minggu depannya kita langsung balik lagi ke Parakan !!!.

Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s