Karcis Parkir

Karcis atau tiket adalah alat untuk menitipkan barang/benda yang bentuknya berupa sehelai kertas. Karcis biasanya digunakan dalam nonton atau parkir. Namun nama dan maknanya berbeda. Karcis parkir dan tiket nonton. Tidak ada (setahu saya) yang penyebutannya tiket parkir dan karcis nonton. Ada makna dan relasi kuasa yang menyebutkan bahwa makna kata tiket lebih tinggi daripada makna kata karcis. Hal ini bisa disebabkan karena nilai beli tiket tentu bahkan pasti lebih mahal daripada nilai beli karcis. Entah sejak kapan padanan kata tersebut mulai digunakan. Yang jelas jika anda menyebutkan karcis nonton dan tiket parkir maka telinga anda (mungkin) akan terganggu atau kedengarannya wagu (aneh).

Karcis parkir adalah salah satu benda brilian yang diciptakan oleh pemilik toko, warung, mal, ataupun perusahaan. Dengan menggunakan karcis, anda tidak perlu mengeluarkan STNK. Orang-orang biasanya menaruh STNK di dalam dompet bahkan di sela-sela dompet yang membuat anda terkadang kesulitan untuk mengeluarkannya. Nah, karcis biasa anda taruh di saku celana atau saku baju. Tentu maksudnya biar anda mengeluarkannya lebih mudah. Di beberapa mal ataupun toko besar biasanya tertera karcis wajib dikembalikan petugas. Jika hilang maka anda akan terkena denda yang jumlahnya bisa 2-10x lipat dari harga karcis tersebut. Mungkin harga pembuatan karcis mahal atau bisa jadi karcis dapat digunakan kembali.

Lain halnya jika anda menggunakan karcis yang tersedia di alun-alun. Ketika anda menyerahkan karcis tersebut maka karcisnya akan dibuang oleh petugasnya. Toh, mereka sedia stok yang cukup. Jikapun karcisnya hilang, anda tinggal menunjukkan STNK walaupun mungkin anda agak sulit mengeluarkan dari dompet. Lalu bagaimana penggunaan karcis di universitas atau sekolah ?

Salah satu universitas ternama di Malang menggunakan karcis sebagai tanda masuk ke universitas tersebut. Biaya yang dikeluarkan cukup ‘murah’. Anda hanya cukup mengeluarkan seribu rupiah. Jika anda ingin bebas masuk maka tunjukkan kartu identitas bahwa anda pegawai/mahasiswa di universitas tersebut. Nah, jika anda keluar kampus maka anda harus mengeluarkan STNK. Jika anda mahasiswa dan tidak membawa STNK, anda akan dicatat di buku dan KTM anda akan disita oleh petugas yang berwenang. Kecuali jika anda memiliki karcis, maka karcis tersebut dikasi ke petugas dan petugas mengecek apakah nomor yang tertera sesuai dengan plat nomor kendaraan anda.

Lain halnya dengan salah satu universitas ternama dan terpopuler di Jogjakarta. Ada beberapa pintu masuk tempat parkir yang tidak memakai karcis. Anda cukup masuk saja namun jika keluar anda membubuhkan KTM di tempat scan atau mengeluarkan STNK. Ide yang cukup bagus. Namun ada beberapa pintu masuk yang masih menggunakan karcis. Gratis namun ‘sedikit membahayakan’. Mengapa saya berkata begitu ? Jika anda keluar dari kampus tersebut, maka anda menyerahkan karcis tersebut dan petugas tidak pernah mengecek keabsahan karcis tersebut. Maksudnya tidak mencocokkan apakah nomor yang tertera pada karcis tersebut sesuai dengan plat nomor kendaraan anda. Cukup berbahaya dan akhirnya kejadian pencurian terjadi. Kok bisa ? Disini kelemahannya.

Misal anda adalah orang awam kemudian masuk ke kampus tersebut dengan mendapatkan karcis yang diberikan petugas. Kemudian anda cukup keluar dengan menggunakan karcis tersebut. Tidak harus dirapikan. Mau anda buntal atau bungkus atau sedikit sobek maka pasti petugasnya akan menerima. Kan ndak perlu dicek keabsahannya. Di salah satu gedung yang menerapkan model tersebut pernah kecolongan. SI pencuri menggunakan keahlian dan kecerdikan dengan membawa sepeda motor curiannya melewati pemeriksaan hanya bermodal karcis sembarangan yang entah darimana ia dapat. Langgeng dan lolos. Si pemilik kaget dan lapor kepada petugas bahwa sepeda motornya hilang. Dia menunjukkan STNK dan kunci motor yang ia miliki. Petugas kalang kabut.  Atasannya memarahi petugas karena di gedung tersebut pula si petugas tidak pernah mengecek keabsahan karcis tersebut ketika pengguna kendaraan keluar dari gerbang.

Suatu kali, ada kawan saya yang kehilangan karcis di gedung tersebut. Namun kawan saya bersikap santai karena toh dia membawa STNK. Jadi dia berpikir mudah saja untuk akses keluar dari gedung tersebut. Namun nasib berkata lain. Ketika dia memberi STNK malah dia diperingatkan oleh petugas-petugas kalo karcis jangan sampe hilang. Namun kawan saya juga bekata ”Biasanya kalo karcis hilang kan gantnya nunjukkin STNK pak, lagian karcis juga ga pernah dicek keabsahannya”. Perdebatan kecil terjadi. Dia dibebaskan dengan peringatan jangan diulangi lagi untuk besok.

Pelajaran bagi manusia adalah terlena membuat kebijakan namun terkadang tidak memperhatikan perbuatan yang sederhana. Mengecek keabsahan karcis sederhana namun memang melelahkan. Namun jika kebijakan tersebut adalah hal yang paling mudah dilakukan seharusnya para petugas ikut menyukseskan dan bertanggung jawab atas tugasnya. Toh , mereka juga digaji tetap dan bulanan. Bayangkan petugas karcis parkir  di kawasan Malioboro yang belum tentu penghasilannya bahkan kadang harus memberi setoran. Namun petugas-petugas tersebut tetap komitmen dengan mengecek keabsahan karcis tersebut.

Konsisten dan komitmen. Mudah dikatakan namun rumit dilaksanakan.

Pelajaran bagi petugas. Pelajaran bagi pemangku kebijakan. Pelajaran bagi kita semua. Selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s