Jogja, kok kamu macet sih ?

Keadaan semakin menggila di Jogjakarta. Macet terjadi dimana-mana. Diantaranya di perempatan jakal, perempatan condongcatur, perempatan monjali, perempatan XXI. Sebenarnya masih banyak lagi daerah yang macet. Namun alangkah lebih baiknya mengerucut kepada keempat daerah tersebut. Daerah tersebut sering dilanda macet pada jam berangkat dan pulang manusia-manusia kerja. Sejatinya macet ada pelbagai sebab. Salah satunya jumlah kendaraan bermotor kian membludak. Transportasi yang minim, DP kendaraan motor yang kian murah, dan masih banyak hal lagi. Tapi tahukah kamu , sejatinya ada beberapa hal yang luput dari pandangan orang-orang. Mari kita simak.

Pertama, waktu lampu hijau terasa singkat. Coba anda perhatikan. Di keempat daerah yang saya sebutkan diatas tidak ada waktu yang lebih dari 25 detik. Hampir semuanya kurang dari 25 detik. Kecuali di perempatan condongcatur yang berasal dari arah barat menuju ke timur. Disana waktunya berkisar 30-40 detik. Namun yang paling krusial adalah waktu kurang dari 25 detik hanya terjadi saat pukul 16.30-17.30. Setelahnya normal kembali. Bayangkan jika ada mobil yang berderet panjang minimal 3 saja. Jika lampu sudah hijau maka waktu yang dihabiskan berkisar 15 detik. Alhasil, kemacetan panjang tak terelakkan. Apalagi pengendara motor Jogja yang tidak mau ngalah. Coba anda cek.

Kedua, barisan polisi yang siaga. Menurut saya, sejatinya polisi yang bertugas pada waktu kemacetan tidak menghasilkan apa-apa. Toh, kalo ndak macet bukan dari polisinya melainkan pengendaranya sadar diri. Kenapa saya bilang sadar diri. Karena di pos polisi, sudah siap motor dengan kondisi menyala yang jika ada pengendara melewati sedikit saja lampu kuning/oranye. Maka habislah pengendara tersebut. Sekali lagi, ketertiban bukan karena polisi namun manusia yang sadar diri. Sadar diri bahwa polisi pasti menilang anda apapun kesalahannya. Ndak percaya ? Coba anda cek selain keempat daerah tersebut ada dua daerah SETAN yaitu pertigaan Malioboro dan pertigaan UNY. Polisi disana luar biasa awasnya. Maklum harga bahan pokok kian melambung jadi wajar cari penghasilan tambahan.

Ketiga, nah ini yang paling krusial. Pengamen dan pengemis. Karena pengemis adalah alasan mengapa pemerintah Jogja mengeluarkan perda dilarang memberi uang kepadanya. Sejatinya jika disimak bukan karena biar menyadarkan diri para pengemis tersebut tapi ya itu menghambat laju kendaraan bermotor. Dikasi salah tapi ndak dikasih ya kasihan. Kan serba repot. Mbok yaa kalo jadi pengemis kayak Budiyono atau Pieter Lennon yang selalu menghibur mahasiswa/i.

Jadi, sekali lagi jangan sekali-kali salahkan banyaknya kendaraan bermotor yang makin membludak. Manusia ndak pernah salah beli. La wong Freud juga bilang manusia harus menguasai id, ego, dan super ego. Jadi jangan salahkan sales yaa. Salahkan ketiga hal tersebut bro.

Btw, kendaraan bermotor di rumah/kos anda jumlahnya berapa ? Selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s