Fase Gew(r)ing

Dua puluh lima tahun yang lalu, lahirlah seorang anak yang mempunyai wajah tirus, kulit putih, bermata sipit dan bobot sebesar 3,8 kg. Anak itu diberikan nama oleh Bapaknya yang memiliki aksen Jawa Tulen yaitu Gewing. Blio berharap dengan nama tersebut anaknya menjadi manusia yang “Gesang” (hidupnya lama) dan “Weling” (hidupnya penuh dengan warna yang indah). Kelak, Gewing akan menjadi manusia yang “Sempurna” bagi keluarga dan teman-temannya.

Gewing mengalami hidupnya bak roller coaster. Semasa SD, dia selalu menempati posisi 5 besar di kelasnya. Gewing dianggap cerdas dalam pelajaran matematika dan Bahasa Jawa. Hal ini berlanjut ketika memasuki fase SMP. Menduduki salah satu SMP favorit di kotanya, Gewing menempa otaknya begitu keras. Pelajaran apapun mulai dari bahasa Inggris, bahasa Jawa, Matematika, seni musik bahkan teknik menyulam dilahapnya dengan cukup tuntas. Sayangnya masa keemasannya hanya berlaku sampai usia 15 tahun. Menginjak SMA, Gewing mengalami fase yang dianggapnya pencarian jati diri. Mabuk, tawuran, bahkan melinting daun Jamaika adalah hal yang selalu dilakukannya. Kelakuannya tersebut membuat tubuhnya menjadi kurus dan kering kerontang. Alhasil, namanya sering diplesetkan oleh teman-temannya dengan sebutan Gering. Julukan yang sesuai dengan kondisi tubuhnya.

Suatu ketika, sekolahnya dilanda tawuran hebat dengan musuh bebuyutannya. Teman-temannya dan Gering ikut serta dalam oyak-oyakan (kejar-mengejar). Bukannya berhasil mendapatkan musuh, Gering malah terperosok ke dalam selokan hingga tenggelam. Kondisi di jalanan kalut. Teman-temannya yang berusaha menolong Gering justru kabur akibat sirine hongip (polisi) yang terdengar kencang. Saat polisi tiba, Gering diangkut ke dalam bak terbuka dalam kondisi basah kuyup. Sesampainya di kantor polisi, Gering disuruh membuka pakaiannya hingga celana pendek yang tersisa. Pukulan pertama mendarat di punggungnya. Pukulan kedua mengoyak pipinya dan yang terakhir menjungkalkan kakinya. Akhirnya, dia disuruh push up sebanyak 30x dan esoknya selama sebulan harus melakukan wajib lapor 3x seminggu. Sudah jatuh tertimpa tangga untuk Gew(ring).

Sepakbola adalah kegiatan yang paling digemari oleh Gering. Hampir tiap pekan dia menyempatkan untuk menjejakkan kakinya di lapangan desa setempat. Posisi favoritnya adalah striker. Mimpinya untuk menjadi Filippo Inzaghi adalah alasan mengapa dia memilih posisi tersebut. Gering dikenal pemuda-pemuda setempat sebagai striker yang haus gol. Tandukan dari kepalanya dan tendangan ‘emas’ dari kaki kirinya adalah senjata andalan utamanya. Namun di hari itu, situasi berubah.

Hari Rabu lebih tepatnya, Gering disuruh pelatihnya untuk menjadi bek kiri. Awalnya dia menolak karena merasa badannya yang kecil justru akan menjadi sasaran empuk bagi lawan. Apalagi pertandingan tersebut memasuki babak final dan memperebutkan uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah. Pelatihnya memilih dia menjadi bek kiri karena pemain utama dan pengganti sudah terkapar akibat semifinal 2 hari yang lalu. Dia juga dipilih karena kemampuan kaki kiri yang cukup baik. Meskipun pada akhirnya Gering legawa, dirinya masih kurang yakin dengan pemilihan posisi tersebut. Perjudian pelatih tersebut menuai kesalahan. Gering menjadi sasaran empuk akibat lambannya dalam menutup pergerakan lawan. Berulang kali lawan berhasil mengelabui dirinya. Puncaknya di akhir babak pertama, tekelan cukup keras mendarat di kaki kanannya akibat salah kontrol dalam penguasaan bola. Pada babak kedua, dia berlari sedikit pincang namun tidak ada pergantian pemain akibat stok skuadnya yang minim. Malang nian nasib Gering. Kali ini sikutan lawan mendarat di pipinya yang pernah ditampar oleh polisi beberapa tahun silam. Pipinya mengucur darah namun pelatih tetap berusaha memompa semangatnya agar Gering bermain lagi. Sembari kepalanya dibalut, Gering mencoba fokus untuk melanjutkan pertandingan. Tak berapa lama, adu lompatan dengan lawan berakhir dengan pendaratan yang salah dari Gering. Kali ini, dia berguling-guling kesakitan dan berharap diganti dengan pemain lain. Dia terpaksa ditandu keluar lapangan. Ketika pertandingan dilanjutkan, gol tercipta dari pihak lawan akibat sisi kiri yang melompong. Pelatih bukannya memarahi anak asuhnya di lapangan melainkan menghardik Gering yang tersungkur di luar lapangan. Gering hanya terdiam dan merasa kesakitan. Pertandingan pun selesai. Timnya gagal membawa pulang piala desa. Pelatihnya acuh tak acuh dengan kondisi Gering. Pada akhirnya, Gering terpaksa mendekam di RS selama dwibulan dan belajar menggunakan kruk agar bisa berjalan kembali. Sudah jatuh tertimpa tangga Gew(r)ing.

Menjadi politisi adalah cita-cita terbesar dalam hidupnya. Impiannya tidak begitu naif. Dia melihat banyak ketidak adilan di negeri tercinta. Dengan menjadi politisi, setidaknya ada perubahan bagi negeri yang sangat dicintainya. Pijakan menjadi politisi berawal dari kegiatan politik kampus. Pada saat itu, dia mencalonkan presiden kampus. Jika kelak terpilih, maka dia akan berusaha menyejahterakan seluruh mahasiswanya. Yang dimaksud sejahtera adalah berusaha menurunkan SPP mahasiswanya setidaknya dibawah satu juta rupiah. Janjinya tercantum dalam selebaran yang berisi visi dan misinya. “Gering Sang Penyelamat”. Slogan yang cukup simpel dan elegan. Janjinya yang menarik bagi kalangan aktivis dan apatis membuat dia mendapatkan perolehan suara hampir 75%. Kemenangan mutlak yang membuat tidak diperlukannya putaran kedua. Mahasiswa-mahasiswi berharap kelak SPPnya benar-benar turun sesuai dengan janji yang Gering canangkan. Memasuki 100 hari, tampak belum ada perubahan dari janji yang pernah dia lontarkan namun pendukungnya masih dapat bersabar.

Menjelang puasa, Gering masih unjuk gigi dan kembali menyatakan akan menunaikan janjinya. Dia meminta para mahasiswa/i bersabar kembali. Namun, kecerobohan yang fundamental menimpa Gering. Dia terpotret oleh salah satu mahasiswa menenggak minuman keras dan menggunakan heroin. Kebiasaan yang dulu pernah terjadi pada dirinya. Gering berharap mahasiswa tersebut menghapus fotonya. Tapi malang bagi Gering. Kelakuannya diketahui pihak kampus beserta jajarannya. Pihak kampus memproses laporan tersebut dan akan dipelajari lebih lanjut. Ketika halal bihalal tiba, Gering kaget bukan kepalang karena fotonya terpampang di dinding-dinding fakultas. Dia merasa malu akan tindakannya. Namun nasi telah menjadi bubur, hukuman yang cukup memalukan terjadi pada dirinya. Dia disuruh copot pakaian sembari mengenakan kalung dengan kertas yang bertulisan “Saya pengguna dan saya siap di DO”. Pendukungnya yang dulunya memuja berbalik menjadi memaki atas kelakuannya tersebut. Dia mendapatkan lemparan telur busuk dan air kencing. Tubuhnya yang kurus menambah pedihnya siksaan tersebut karena hampir tidak tersisa bau busuk yang menempel. Pada saat itu juga dia ditendang keluar oleh pihak kampus secara tidak terhormat. Sudah jatuh tertimpa Gew(r)ing.

Kini, dia berharap terlahir menjadi manusia normal yang memiliki tubuh proporsional. Untuk mencapai impiannya, ia memilih menjadi penganut Hindu agar mengalami reinkarnasi. Selesai.

Advertisements

2 thoughts on “Fase Gew(r)ing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s