Berubah

Beberapa waktu yang lalu, saya berkumpul bersama dengan kawan-kawan SMP saya. Perkumpulan yang ingin saya datangi. Wajar, karena sudah hampir 10 tahun saya tidak bertemu dengan kawan-kawan SMP saya. Begitu saya datang, langsung saja pelbagai komentar meluncur dari perkataan kawan-kawan saya. “Wah, kamu bertambah tinggi yaa, padahal dulu pendek banget loo” , “Eh beda banget loo, kamu udah banyak berubah Mod”, “Agak gemukan yaa mod” , “Waah, lama ndak ketemu 10 tahun aja banyak yang berubah yaa, apalagi kalo kita ndak bertemu ¼ abad, hahaha”. Itulah pelbagai tanggapan yang dilontarkan kepada saya. Hal tersebut tidak hanya berlaku terhadap saya, melainkan juga dengan teman-teman saya. Pada intinya, banyak yang berubah !!!

Berubah. Sepulang dari petemuan yang mengharukan sekaligus berlepas tawa, saya terngiang-ngiang dengan kata berubah. Benarkah banyak yang berubah dari saya/ teman-teman saya ? apakah perubahan yang terjadi baik atau buruk bagi kita ? Tindakan apa saja  yang telah dilakukan kita sehingga dapat berubah ? atau factor apa saja yang membuat kita dapat berubah ? Pelbagai macam pertanyaan tersebut (masih) terngiang-ngiang di benak saya. Bahkan mungkin sampai sekarang.

Berubah atau sedikit berubah atau sama sekali tidak berubah tergantung siapa yang melihatnya. Berubah itu bisa menjadi postif atau negatif tergantung lingkungan dimana orang tersebut tinggal dan kebiasaan yang telah dilakukannya selama tinggal di tempat tersebut. Contoh: saya telah tinggal kurang lebih 6 tahun di Malang, maka logat saya pun berubah ke arah jawatimuran. Mengumpat sesuatu jancok, cok menjadi hal yang lumrah. Namun berubah atau nggak berubah tergantung juga keadaan anda mau menerima perubahan yang ada di lingkungan tersebut. Kawan saya yang telah tinggal 10 tahun di  Malang, tetap saja logat asal daerahnya masih kental. Beda dengan saya.

Para ahli menyebutkan bahwa jika anda telah mampu masuk ke perubahan dan meninggalkan perubahan yang dulu maka anda mampu melakukan asimilasi. Namun, jika anda masih mempertahankan keaslian daerah anda maka anda hanya melakukan akulturasi. Mana yang lebih baik ? Akulturasi atau asimilasi ? Sekali lagi, hal tersebut sejatinya tidak perlu dirisaukan, toh yang paling penting anda mampu berubah yang lebih baik. Seperti calon wakil rakyat yang selalu membuat jargon tersebut ketika berharap terpilih menjadi wakil rakyat.

Kata Cak Nun, berubah atau ndak berubah yang paling penting adalah anda mampu bertanggung jawab terhadap perubahan yang terjadi pada diri anda. Ya atau tidak, positif atau negatif maka yang paling penting perubahan anda mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Khairunnas anfa’uhum linnaas (Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain). Oleh karenanya, walaupun anda sama sekali tidak berubah maka apa yang dilakukan anda bermanfaat bagi orang lain. Berubah itu sesuatu yang bisa terjadi sedangkan perubahan itu sesuatu yang pasti terjadi. Semoga hal tersebut juga sejalan dengan apa yang dilakukan pemerintah melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental. Gerakan yang ingin mengajak masyarakat Indonesia berubah ke arah lebih baik dari segi mental. Semoga terwujud dan terlaksana. Amin.

Selamat tahun baru 2016. Semoga anda selalu bertanggung jawab terhadap perubahan yang anda lakukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s