Saya bukan bagian dari HMI, tetapi HMI bagian dari saya

Akhir-akhir ini salah satu organ mahasiswa yang cukup tua yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi sorotan banyak media massa dan elektronik. Berita yang dimunculkan oleh media-media tersebut hampir semuanya memiliki makna negatif. Berita tersebut antara lain adalah kasus beberapa rombongan liar yang tidak membayar makanan di salah satu resto, konggres yang menghabiskan dana APBD sebesar 3 miliar, kerusuhan yang dilakukan salah satu cabang dengan melakukan pembakaran ban dan masih banyak lainnya. HMI digambarkan sebagai organisasi rusuh, lusuh dan keruh dalam mengatasi sebuah masalah. Konstruksi tersebut mampu berjalan dengan mulus sehingga ada yang menganggap bahwa masa HMI telah habis.

Ibarat sebuah kapal, HMI sedang mengalami pergolakan baik dari permikiran maupun pergerakan. Ada yang menganggap kader-kader HMI telah tumpul untuk mengatasi persoalan bangsa Indonesia namun juga ada yang menganggap bahwa kader HMI masih memiliki taji untuk diharapkan mengatasi permasalahan bangsa Indonesia. Sejenak melihat masa lampau, HMI telah memiliki sumbangsih yang begitu besar terhadap bangsa dan negara Indonesia. Mulai dari tahun kemerdekaan Indonesia (1945), tahun pergolakan pemberontakan Indonesia (1965), dan tahun krisis politik dan ekonomi Indonesia (1998). Sebutan HMI sebagai Harapan Masyarakat Indonesia seperti yang telah dikatakan oleh Jenderal Soedirman ‘mungkin’ hanya akan menjadi jargon di masa lalu. Entah jargon apa yang masih pantas untuk melihat kondisi dan situasi terkini di tubuh HMI.

HMI dikenal mampu menghasilkan pemikir, akademisi, politisi dan berbagai hal lainnya. Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Dawam Raharjo, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Mahfud MD, dan Anies Baswedan adalah beberapa nama tokoh HMI yang telah memberikan sumbangsih bagi bangsa Indonesia. Mereka mampu memberikan pemikiran yang positif bagi bangsa dan negara Indonesia. Sayangnya, jejak positif yang telah dilakukan oleh mereka ‘mungkin’ tidak diikuti oleh beberapa generasi muda. Kader-kader HMI yang ada di berbagai kampus di Indonesia hanya sekedar ‘terlihat’ mandul secara wacana dan tumpul secara gerakan. Orang-orang bahkan menyebutnya HMI sebagai Himpunan Manusia Intrik atau Hanya Menuju Ilusi.

Anda boleh apatis namun anda tidak boleh pesimis. Kata-kata tersebut meluncur dari seorang kawan yang melihat kondisi dan situasi terkini di HMI. ‘Mungkin’ HMI terlihat negatif karena HMI sengaja dibuat mengalami pembusukan secara terstruktur. Perkataan seorang kawan mungkin ada korelasinya ketika HMI sedang memperjuangkan nama Lafran Pane sebagai Pahlawan Nasional namun sayangnya HMI sedang mendapatkan berita tidak sedap karena kongres yang ada di Pekanbaru, Riau. Menurutnya, HMI masih mampu memberikan sumbangsih yang positif bagi bangsa Indonesia selama kader-kader HMI bergerak sesuai dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih.

HMI harus subversif. Begitulah perkataan Cak Nun kepada seorang kawan ketika berkunjung ke rumah beliau. ‘Mungkin’ perkataan Cak Nun dimaksudkan agar HMI segera berbenah diri melihat permasalahan bangsa dan negara terkini. Kawan saya mencoba mengartikan subversif adalah ketika terjadi pergolakan/permasalahan bangsa yang tidak adil terhadap rakyat maka HMI seharusnya mengontrol dan mencoba mencari permasalahan agar kebijakan pemerintah tepat pada sasaran. Kalimat tersebut adalah saran dan kritik yang membangun agar kader-kader HMI tidak lagi bingung dalam menentukan sikap dan tindakan.

Paradigma yang telah terbangun di kader-kader HMI adalah “Saya adalah bagian dari HMI”. Hal inilah yang menyebabkan kader HMI selalu menuntut kepada HMI supaya “HMI itu seharusnya begini, HMI itu seharusnya begitu, HMI itu jangan seperti ini, HMI itu jangan seperti itu” dan masih banyak hal lainnya. Ada permasalahan dan pola pikir yang belum tepat jika kader HMI masih berpikir seperti itu. Kader HMI seharusnya berpikir bahwa “HMI adalah bagian dari saya” maka pola pikir yang terbangun adalah apa yang bisa/sudah kader HMI lakukan buat HMI. Kita tidak akan tergerak untuk selalu menuntut karena jiwa HMI adalah bagian dari diri kita. Oleh karenanya, inilah saatnya kader HMI membangun pola-pola yang terstruktur apa yang sudah/bisa dilakukan buat HMI. Ketika ada beberapa permasalahan seperti yang telah diungkapkan diatas, kita tidak perlu menelisik terlalu jauh. Hal tersebut biarlah menjadi urusan kader-kader yang masih berkutat pada pola pikir lampau.

Jangan pernah lelah untuk berbuat baik kepada HMI. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan menghasilkan sesuatu yang positif bagi HMI. Kita harus menahan diri untuk tidak mengikuti arus yang sudah terbangun di luar. Mengutip dari perkataan Gus Dur, berbuat baiklah kepada siapapun karena orang tidak akan melihat latar belakangmu tetapi melihat apa yang sudah dilakukan dirimu terhadap siapapun. YAKUSA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s