Jangan pernah menawarkan harapan apalagi memberi kepastian

Ketika anda disuruh mengamati konflik Timur Tengah, maka kesulitan yang anda akan capai adalah menemukan pangkal permasalahan dari setiap konflik. Konflik Timur Tengah mulai hits ketika Israel mulai memerdekakan diri pada tahun 1947. Lord Rottschild adalah salah satu pelopor yang mana membantu Israel mendapatkan kemerdekaan setelah terlunta-lunta karena diasingkan berbagai wilayah seperti Jerman dan Rusia. Pembantaian besar-besaran (Holocaust) yang dilakukan oleh Hitler sehingga menewaskan ± 6 juta kaum Yahudi (klaim dari media Barat) serta pengusiran masyarakat Rusia kepada kaum Yahudi akibat perselisihan antara Kristen dan Yahudi membuat Israel memendam luka lama yang (mungkin) kemudian dilampiaskan di kemudian hari.

Titik balik Israel untuk memukul Arab terjadi pada tahun 1967 yang mana Israel mendapat kemenangan mutlak dari Arab yang waktu itu dipimpin oleh Gamal Abdul Nasser (Mesir). Kemenangan yang sampai saat ini dirasa masih relevan untuk diperbincangkan kembali. Israel sempat mengalami kekalahan ketika Anwar Sadat memimpin. Kemudian, perjanjian damai  didengungkan mulai dari Oslo I sampai Oslo II untuk menegasikan Arab dan Israel. Sayangnya perjanjian damai tersebut mulai luntur maknanya. Kini, kaum Israel mulai memperluas wilayah yang mengakibatkan induk semangnya yaitu Palestina semakin teralienasikan dari wilayahnya sendiri.

Kasus terbaru adalah perebutan kekuasaan tentang siapa yang berhak menguasai Masjid Al Aqsa. Setelah berpindah – pindah kekuasaan dari Jordania, Israel, dan Palestina maka Al Aqsa sepenuhnya dikendalikan oleh Jordania. Jordania mencoba memperlakukan kedua negara yaitu Israel dan Palestina dengan memberi kebebasan dalam menjalankan ibadahnya di daerah yang telah diberikan Jordania. Sayangnya, karena dua negara Israel dan Palestina masih mengalami pertentangan yang cukup sengit maka sampai saat ini kedua negara tersebut bak air dan minyak. Saat ini Jordania mulai berkoalisi dengan Israel dan Mesir mulai membatasi gerak masyarakat Palestina untuk menggunakan Masjid Al Aqsa. Hal ini tidak terlepas ketakutan Jordania terhadap Hamas,Jihadis Islam dan Ikhwanul Muslimin. Oleh karena itu, Jordania menggandeng mitra terdekat yaitu Mesir dan Israel. Israel dan kondisi Mesir sekarang anti terhadap Ikhwanul Muslimin dan ini mengakibatkan perselingkuhan politik. Telah diketahui banyak pengamat Timur Tengah bahwa Mesir dan Jordania adalah negara terdepan untuk membela Palestina. Namun hal ini berbanding terbalik akibat kekuasaan politik yang mana PM Netanyahu (Israel) dan El Sisi (Mesir) begitu bencinya terhadap Ikhwanul Muslimin. Terbukti Mesir banyak memenjarakan para dedengkot IM di era El Sisi. Israel mengambil untung  sehingga ketika harapan Israel untuk membendung Palestina menjadi kenyataan setelah Jordania dan Mesir ikut bergabung. Kini, Israel berada diatas angin untuk memonopoli kepentingannya. Perselingkuhan politik yang menyebabkan logika konflik tersendat. Seharusnya Mesir dan Jordania membantu Palestina namun kini berbalik membela Israel karena sentimen terhadap IM.

Adagium pun muncul yang salah satunya adalah Jangan pernah menawarkan harapan apalagi memberi kepastian terhadap Israel.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s