Aku merindukanmu tapi Allah lebih sayang kamu, Aang

14 Oktober 2010. Suara pintu kamarku dipukul keras.. DOOOK DOOOK DOOOK !!! Aku yang saat itu tertidur pulas akibat begadang semalaman langsung bangun. “Mas, mas, Bangun mas”. Kubuka pintu dengan rasa terpaksa. “Aang meninggal mas” suara tanteku sambil terisak nangis. Nyawaku yang belum terkumpul dengan penuh sedikit tidak percaya dengan kalimat tanteku. Aku kemudian menuju kamar tamu dan disana telah berkumpul kakekku, nenekku, tanteku yang dari Jakarta, pamanku, dan anak dari tanteku. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul set4 sore. Aku duduk diantara nenek dan tanteku. “Aang meninggal mod” nenekku dengan lirih berkata. Tiba-tiba hape berbunyi. Pamanku yang dari Jakarta juga mengabarkan hal serupa dan turut mengucapkan belasungkawa. Kemudian aku terdiam.

14 Desember 1993. Seorang anak laki-laki lahir dengan nama Mozzie Anggodo Prakoso. Ayahku lebih suka memanggil Aang daripada Mozzie. Adikku yang kedua ini bisa dibilang ‘spesial’. Usia 2 bulan sudah divonis penyakit Hidrocefalus atau penyakit dengan pembesaran kepala. Dokter mengatakan bahwa cairannya harus disedot supaya otaknya bisa berkembang. Ayahku menolak mentah-mentah usulan dari dokter tersebut. Ayahku tidak mau mengambil resiko tersebut. Dokter juga belum bisa memastikan apakah otaknya akan berkembang jika cairannya disedot. Akhirnya Aang deibawa pulang ke rumah dengan kondisi seperti itu. Ayahku bilang jika tiap hari kepala Aang harus dikasih bawang merah, laos diparut kemudian dicampur dengan minyak kayu putih dan dioles ke kepala Aang. Aku kadang berpikir, ramuan itu buat apa tapi Ayah selalu bilang itu ‘petunjuk Allah’. Aku tak bisa membantah.

Memasuki usia 22 bulan, Aang mendapat cibiran karena belum juga bisa berjalan. Tiap hari Mama menangis, Aku juga sedih kalo melihat Mama menangis. Tapi, kejutan dari Allah datang. Ketika ada beberapa orang datang ke rumah dan sedikit mencibir Aang, tiba-tiba Aang berjalan dan kemudian berlari menuju pintu kemudian langsung memeluk Mama. Orang-orang tersebut kaget dan seketika itu juga Mama menangis kemudian mengucap syukur atas nikmat tiada bandingnya kepada Allah SWT. Menginjak SD, mama dan ayah bingung karena hampir semua SD menolak Aang karena melihat kondisi Aang dengan penyakitnya. Para guru tersebut mengatakan bahwa Aang lebih baik diarahkan ke SLB. Hati ayah dan mama hancur jika mendengar perkataan itu. “Sabar, Allah pasti beri jalan ma” ucapan ayah berulang kali ke mama. Alhamdulillah, SDIT BIAS mau menerima kondisi Aang yang seperti itu. Bahkan kemudian Aang boleh melanjutkan sampai SLTP di BIAS (Bina Anak Sholeh).

Terkadang Allah selalu memberi kejutan umatnya secara unik. Mama yang selalu bahkan hampir tiap hari mengukur kepala Aang dibuat kaget dan terpana. Menjelang SMA, ukuran kepala Aang bisa mencapai normal seperti manusia seperti biasanya. Subhanallah, sekali lagi Allah memberikan kejutan terselubung. Aang tergolong special. Jika ia dimasukkan ke SMA normal maka Aang tidak bisa mengikuti rekan-rekannya namun jika dimasukkan ke SLB, justru ranking Aang selalu tertinggi diantara yang lain. Luar biasa. Terkadang cibiran kepada Aang sungguh mengerikan. Kadang dia menangis dan berharap cibiran itu terhenti. Aku kadang menangis dan mencoba memeluknya sambil berkata “Aang yang sabar yaa, Allah pasti selalu sayang sama Aang”. Aang adalah adekku yang paling dekat. Dia selalu tidur disampingku. Kadang dia suka iseng kalo aku lagi tidur. Aku hanya tertawa dan kadang membalas keisengan Aang. Aang adalah penggemar forklift (semacam kendaraan berat ). Dia selalu mengutak atik computer dan mencoba memodifikasi gambar-gambar forklift. Jeniusnya, Aang mampu melakukannya. Kadang-kadang aku terheran-heran, kok bisa Aang melakukan itu. Hahaha…

Selepas Maghrib, aku dan keluarga besar di Malang segera bertolak ke Yogyakarta. Ayahku berkata, “Kalo kamu udah datang nanti Aang segera dimakamin. Kalo bisa sebelum Jumatan kamu udah di rumah ya mas”. Perjalanan terasa begitu lapang. Tante, Paman, dan nenek saling bercerita tentang Aang. Aku hanya diam dan terkadang tersenyum.

Kurang lebih 2 minggu sebelum Aang meninggal, Aang mengalami penyakit asma. Ayah membawa ke dokter terdekat kemudian dokter tersebut memberi resep-resep yang dibutuhkan. Aang meminum obat secara teratur. Sedikit demi sedikit asmanya agak berkurang. Seminggu setelahnya Aang kembali diperiksakan ke dokter. Dokter berkata, “ Wah, Mas Aang ini cuma butuh renang aja, pasti Mas Aang sembuh.” Ayah senang mendengarnya begitu juga dengan Mama. Selama seminggu terakhir, Aang selalu sholat dengan khusyuk bahkan berdoa sambil berdzikir cukup lama. Unik, biasanya Aang selalu sholat dengan cepat bahkan rekan-rekannya menjulukinya STD (Sholat Tanpa Doa). Aang hanya membalas “Aku ini selalu dekat sama Allah, makanya ga perlu pake doa.” Aku hanya tertawa lepas jika ia berkata begitu.

Hari Rabu. Keadaan Aang sedikit memburuk. Ayah mengajaknya membaca Juz Amma sembari berdzikir. Di kamarku, ia selalu memegang tasbih sembari berdzikir terus menerus tanpa henti. Menjelang tidur, Aang minta tidur ke ruang keluarga. Ayah menurutinya dan mendampingi Aang yang terus berdzikir sampai dirinya tertidur. Ketika jam dinding memasuki pukul 2, Aang tiba-tiba mengigau dan berbicara bahasa Jawa seakan ada yang mengajaknya berbicara. “Wes tho, mengko wae. Mengko aku munggah kok. Wes yoo, mengko wae. (Sudahlah, nanti saja. Nanti saya juga naik. Udah yaa, nanti aja). Begitulah perkataannya.

Hari Kamis. Paginya Aang beraktivitas seperti biasa. Dia selalu menonton acara Si Doel Anak Sekolah pukul 10.00. Acara yang selalu dia tonton ketika sakit. Aang hanya meminta mama dibuatkan sayuran baby kol. Mama pun mengiyakan. Menjelang sholat zuhur, Aang berganti pakaian sholat lengkap menggunakan sarung. Ayah, Mama, dan Aang sholat berjamaah. Kemudian dia kembali ke kasur di depan ruang keluarga. Dia tidur terlentang sembari berdzikir dengan tasbihnya. Memasuki ashar, Aang menyuruh ayah segera menjemput Obi, adikku yang paling kecil. Ayah bilang ,”Ntar tho Ang, tunggu 5 menit lagi.” Tapi Aang memaksa, “Udah yah, Obi udah pulang kok. Segera dijemput.” Ayah pun menuruti perintah Aang dan kemudian segera bersiap-siap. Mama mengantarkan ayah ke depan sembari membukakan gembok depan dan mengucapkan hati-hati ke ayah. Ketika mama balik ke ruang keluarga, keheningan terjadi. Nafas Aang seperti tidak bersuara. Mama mengecek dengan segera. Aku selalu percaya, insting Mama itu selalu luar biasa. Kemudian Mama berkata, “Kalo Aang sudah diminta Allah, insya Allah Mama udah ikhlas kok Ang.” Hentakan nafas terakhir dari Aang mengakhiri perjalanan hidupnya selama 17 tahun.

Jumat Pagi. Aku bersama keluarga Malang sudah sampe rumah. Aku hanya melihat mama menahan tangis kemudian aku memeluk ayah dengan sangat erat tanpa mengucap sepatah kata apapun. Kemudian aku melihat Aang telah dikafani dan baunya sangat harum. Segera aku berwudhu, sholat jenazah dan memberikan ciuman terakhir kepada Aang. Kerabat serta keluarga datang silih berganti. Yang tak kuduga, ternyata Aang sudah memiliki pacar namun sayangnya pacarnya belum mengerti jika Aang telah meninggal. Ayah hanya berkata, “Dek, Mas Aang ini lagi tidur dan menuju ke tempat yang lebih baik.” Sulit memang menjelaskan kepada cewenya yang bisa dibilang kondisinya hampir sama dengan Aang. Aku kembali dibuat nangis ketika ayah menunjukkan gambar dan tulisan bahwa setelah selesai SMA, dia pengen nikah kemudian membuka bengkel dan pacarnya berjualan nasi sayur di depan bengkelnya. Suatu cita-cita yang jujur dan mulia.

Adzan Jumat berkumandang. Aku beserta orang-orang ikut membawa jenazah Aang ke masjid. Selepas Jumatan, Aang segera diberikan tempat istirahat yang terakhir. Ayah memberi adzan dan iqamah terakhir. Kemudian kami berdoa semoga Aang dapat ditempatkan di sisi terbaikNYa. Hujan turun ketika acara berdoa telah selesai. Wangi bunga bercampur dengan air tanah yang terkena hujan sangat menenangkan jiwa. Subhanallah.

Kini tepat 5 tahun kepergianmu, Aang. Semoga aku bisa mengikuti jejakmu Aang. Hey Aang, ternyata Allah begitu dekat kan ? 🙂

*Teruntuk adikku Aang. Al-Fatihah

Advertisements

2 thoughts on “Aku merindukanmu tapi Allah lebih sayang kamu, Aang

  1. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu. Semoga Dek Aang jadi penjemput ayah ibumu di surganya kelak. Terharu bacanya, Mod 😥

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s