Kisah misteri di UNAIR Part 2

Tiba-tiba Irur memanggil saya berkali2. Sembari mengecek waktu yang ternyata menunjukkan set3 pagi, Irur meminta saya untuk mendengarkan suara dari atap. Suara tersebut “Srrrk srrrk srrrk” seperti suara cakaran. Melihat wajah Irur pucat pasi, saya berdalih bilang kepadanya bahwa mungkin itu suara kucing sedang menerkam tikus. Mungkin saja..

Paginya saya bertanya kepada teman sebelah apakah mendengar suara tersebut, ternyata mereka tidak mendengar sama sekali. Mungkin mereka lelah atau tidurnya terlalu nyenyak atau mungkin . Pikiran saya kemudian kembali terfokus kepada festival ini. Pertandingan demi pertandingan kami lalui. Sayangnya karena kurang latihan dan kurang pengalaman, kedua tim kami langsung gugur di fase grup. Sayang sekali…

Malam harinya ketika kami sudah dipastikan tidak akan mengikuti pertandingan selanjutnya, kami mengadakan pesta kecil2an. Kami membeli banyak minuman dan makanan. Tertawa lepas dan bahagia. Diantaranya ada yang sampai teller bahkan pisang. Empat diantaranya termasuk saya, Alhamdulillah tidak sampai ikut2an pesta tersebut. Maklum empat orang tersebut termasuk orang yang polos. Hehehe..

Agam dan Irur yang jago minum tiba-tiba masuk kamar saya sembari tertawa ngakak tidak jelas. Agam kemudian duduk di kasur saya, Saya menghadap dia sedangkan Irur menghadap jendela. Agam bercerita kepada saya bahwa dirinya dalam 2 hari ini sedang diikuti seorang wanita. Saya bertanya, “mana wanitanya gam ?” Kemudian dia berkata “Lha ini dia sedang duduk sembari tersenyum kea rah kamu, Mod.” Seketika itu bulu kuduk saya merinding, sambil mengucapkan istighfar. Agam ini memang mempunyai indera keenam. Sejak awal kuliah dia selalu mengatakan hal-hal aneh yang mungkin jika di dalam logika kita tidak masuk akal. Irur bilang, “Halah mod, paling nglantur.. maklum orang teler kan begitu semua.” Kami bertiga tertawa lepas namun saya tetap berpikir obrolan Agam pasti ada benarnya. Agam kemudian pamit keluar dari kamar saya dan berkata “Mod, aku keluar dulu mau jalan2”. Saya mengiyakan karena saya pikir dia hanya mencari angin saja. Kami semua pun kembali guyon seperti semula tanpa ada terpikir sedikitpun tentang Agam.

Menjelang pukul setengah 12 malam Irur meminta saya untuk mencarikan Agam untuk segera menghabiskan botol terakhir. Kemudian saya meminta tolong Inu untuk membantu mencarikan si Agam. Saya mencari ke arah pintu masuk bersama si Inu. Perlu diketahui, pintu masuk hanya terdiri dari satu pintu jadi akses keluar masuk terpantau di area tersebut. Saya mencari ke segala penjuru bersama Inu ke seluruh area. Inu berpikir bahwa jika Agam teler, dia bisa pergi ga jelas atau bahkan terkadang tidur di tempat yang ga jelas. Saya mencarinya bahkan akhirnya ke area blok Timur karena siapa tahu Agam malah tertidur di kamar. Saya kembali mencari lagi dan kali mengajak teman-teman karena khawatir kalo Agam terjadi apa2. Setelah hampir satu setengah jam mencari, akhirnya saya mengumpulkan teman-teman di lorong dekat kamar saya untuk bagaimana mencari langkah selanjutnya.

Saya berkata “Rek, Agam ini kayaknya lagi ada yang ‘ngikutin’. Aku ndak tau itu sapa.” Semua terdiam dan tertegun lalu teman saya Septa berkata “Aku tadi sempet nyari info ke anak2 Unair mod, Anak Unair ada yang bilang ke aku, waktu anak2 UB tiba si anak Unair ini ada yang bisikin “Aku mau cari anak yang jarang mandi dan kuat tidurnya”. Semua terkaget dan langsung sepaham. Agam adalah orang yang jarang mandi. Dia ke Unair hanya bawa sebuah baju dan celana sedangkan yang lain bawa minimal 3 stel baju. Agam juga kuat tidurnya bahkan dia pernah tidur satu hari satu malam. Luar biasa. Seketika itu juga kami langsung membagi ke dalam tiga tim untuk mencari keberadaan Agam. Saya sempat menelepon ‘orang pintar’ untuk menanyakan Agam berada. Saya diminta mencari mawar hitam kemudian dilempar ke arah penginapan tersebut. Saya bilang “Mustahil untuk mencari mawar hitam”. Kemudian saya bertanya ke “orang pintar” lagi dan dia hanya berkata “Dia sedang diselimuti, ntar abis subuh juga balik, Mod”. Teman-teman lalu saya kumpulkan kembali dan mengatakan hal sebenarnya. Namun tentu saja banyak yang tidak menerima fakta yang saya ungkapkan.

Kembali saya ke lantai 3 bersama Inu untuk mengecek dan mengunci seluruh kamar di lantai 3 dari luar agar Agam tidak masuk kamar. Kemudian saya dan Agya sholat tahajud hanya agar menenangkan anak2. Teman-teman tetap mencari namun hasilnya nihil. Saya dan teman2 hanya bisa bersabar dan menunggu di lantai satu sampai saat subuh tiba. Singkat cerita, setelah adzan subuh, saya dan salah satu teman segera menunaikan subuh dan berharap semoga Agam segera dikembalikan. Kemudian setelah menunggu lama karena Agam belum juga muncul, kami kembali mencari bahkan sampai pekarangan rumah orang. Lelah dan Pasrah. Saya pun akhirnya memikirkan bagaimana caranya menyampaikan pertanggungjawaban ke dosen2 jika si Agam hilang tanpa jejak. Kami mulai kembali masuk kamar masing2 sekitar jam 7 pagi hanya untuk segera merebahkan badan. Seorang teman masuk ke kamar saya dan berkata “Mod, Agam lagi jalan2 ke Bojonegoro, dia dibawa sampe sana”. Hah, bagaimana mungkin dia udah sampe bojonegoro, pikirku. Jarak tempuh naik kendaraan bus saja butuh 6 jam. Apalagi jika hanya jalan kaki !!. Kami semua benar – benar pasrah hingga keajaiban itu terjadi. Jam 8 kurang saya keluar dari kamar dan menuju kamar mandi. Ketika membuka pintu kamar, tiba – tiba Agam muncul dari kamar sebelah. Saya kaget sekali dan hanya melihatnya dari ujung kepala sampai ujung kaki apakah ini benar-benar Agam. Saya memberanikan bertanya “dari mana gam ?” Dia menjawab “Abis subuh tadi balik Mod.”

Deg, deg, jantung berdegup keras, kaki ga bisa bergerak. Agam masuk ke kamar mandi dan seketika itu juga saya membangunkan seluruh teman-teman untuk memberitahu bahwa Agam telah kembali !! Saya kaget dan tidak bisa berkata-kata, hanya bisa berpikir “Kok bisa?” Semua anak-anak menjaga dari lantai satu sampai tiga untuk memastikan apa Agam akan lewat. Lalu, “Dia muncul darimana” ? . Dia kembali dari kamar mandi kemudian masuk ke kamar depan saya. Inu langsung mengunci kamar tersebut agar dia tidak pergi kemana-mana lagi. Teman-teman masih heran, dia muncul dari mana. Tak ada yang tahu. Zul, dari kamar sebelah bilang, “Kan abis dari kamarmu, dia ke kamar saya Mod. Semalam aku tidur sama dia, ngobrol sampai tiba-tiba Agam dapet jackpot yang kemudian ia buang ke luar jendela”. Saya katakana itu tidak mungkin, karena terakhir dengan jelas dia turun ke tangga bukan menuju ke kamarnya. Apalagi sampai jackpot ke luar jendela. Itu lebih mustahil. Karena Irur yang saat itu di dekat jendela tak mendengar suara apapun.

Pesta terakhir yang diadakan panitia tidak kami ikuti. Kami masih benar-benar heran bagaimana Agam bisa hilang dan pergi kemana saja dia ? . Agam tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Dia hanya mengangguk saja ketika aku maupun Ina perintah. Kami pulang ke Ngalam menggunakan kereta sore. Agam masih tidak berbicara sampai akhirnya dia berbicara ketika kerta memasuki area Sidoarjo. Dia berkata, “Aku kemarin diajak jalan – jalan Mod, mbaknya cantik, rambutnya panjang dan senyumnya ramah. Pake baju putih lagi.” Saya hanya terdiam dan berucap istighfar saja dalam hati. Agam terus bercerita jika mbaknya sangat baik sekali dalam ‘melayaninya.”

images Kn

Sesampai di Ngalam, kami benar-benar bungkam atas kejadian ini. Baru kali ini saya beranikan menulis di blog tentang kejadian ini. Kejadian ini yang mengetahui hanya teman-teman yang mengikuti festival tersebut.

*Selesai

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s