Kisah Misteri di UNAIR Part 1

Ini adalah kisah nyata yang pernah saya alami ketika saya masih kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Pada tahun 2009, ada festival IROS (International Relation On Sport) yang diadakan oleh UNAIR dengan mengundang beberapa kampus di Jawa Timur yang mempunyai jurusan Hubungan Internasional. Selain UB dan UNAIR, ada juga Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Jember. Festival tersebut terdiri dari beberapa cabang olahraga yaitu futsal, tenis meja, dan bola basket. Saat itu, saya mengikuti futsal yang diadakan selama tiga hari. UB mengirimkan dua tim yang terdiri dari komposisi teman-teman 2007 dan 2008. Festival ini adalah festival olahraga pertama yang diikuti oleh teman-teman HI. Singkat cerita, setelah mengalami persiapan yang cukup panjang, kami berangkat menggunakan bus menuju terminal Bungurasih. Setelah sampai disana, kami dijemput oleh anak-anak UNAIR menuju tempat penginapan yang letaknya berada di kampus UNAIR C.

Kisah misteri dimulai dari paragraf ini. Tempat penginapan yang kami tempati cukup luas. Ada puluhan kamar yang terbagi dua blok yaitu blok Barat untuk laki-laki dan Blok Timur untuk perempuan. Tim UB mendapatkan kamar di lantai ketiga. Setelah memilah dan memilih beberapa kamar, saya dan Irur memilih kamar yang letaknya pojok sebelah kamar mandi. Kamar tersebut tempat tidur tingkat. Saya menempati tempat bawah sedangkan teman saya di atas. Ketika saya hendak merebahkan badan, bau wangi aroma yang cukup sering anda jumpai di kuburan menusuk di hidung saya. Saya kaget dan seketika itu juga merinding namun saya abaikan. Saya bertanya kepada panitia untuk mengetahui apa seprai tersebut memang dicuci sebelum anak-anak UB masuk dan ternyata jawaban menggelikan dari panitia adalah “Mas, penginapan ini jarang dipakai, makanya dari dulu seprai dan kamar ndak pernah dicuci dan dimasuki.” Saya bergumam, Hmm.. sepertinya menarik kamar saya ini. Menjelang malam, teman-teman berkumpul dan saling membicarakan strategi bagaimana caranya supaya bisa menang. Malam jam 11 kami semua mulai memasuki kamar masing-masing dan yang saya lakukan ketika akan tidur, mencium bantal dan seprai kasur apakah wanginya masih sama dan seperti yang kuduga, wanginya masih sama. Saya hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga Gusti Pangeran masih melindungi saya.

*Bersambung..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s