Lupakan Jogja

Jogjakarta. Jika mendengar kata tersebut, apa yg terlintas di pikiran anda ? Nyaman, Ramah, Istimewa. Mungkin itu 3 kata yang biasa terdengar di telinga anda. Mungkin loo yaa.. Yang lain mungkin berkata bahwa Jogja itu kenangan, Rindu, dan harapan. Jogja itu Burjo dan Angkringan. Banyak kata dan jika disebutkan disini mungkin setiap kata bisa diuraikan menjadi satu paragraf. Jogja itu tempat saya tumbuh dan berkembang mulai dari TK sampai dengan SMA. Dulunya kota ini selalu nyaman untuk ditinggali. Akses transportasi memudahkan dan masih banyak pohon dimana-mana. Sayangnya, kota yang dulunya nyaman kini berubah menjadi sedikit tidak nyaman. Paradigma kota Jogjakarta menjadi tujuan pariwisata membuat pemerintah terus berinovasi. Namun, inovasi tersebut kadang melampaui batas. Coba anda mampir ke perempatan Tugu maka terlihat sampah visual dan sampah kabel dimana-mana. Saya sebut sampah karena tata letaknya yang kurang enak dilihat. Selain itu, hotel dan apartemen cukup menjamur sehingga membuat kota ini berubah menjadi kota beton. Sungguh sangat disayangkan. Slogan #Jogjaoradidol (jogja ga dijual) bertebaran di dunia maya. Mungkin ini menandakan bahwa masyarakat yang pernah atau menetap di Jogjakarta mulai resah akan situasi ini. Alangkah baiknya, jika fungsi dan tata kota Jogja diperbaiki. Saya dan mungkin pembaca merindukan kehadiran angkot RAS, D2, 21, D6, A3 dan lainnya. Mungkin juga merindukan bagaimana tiap pagi dan sore melewati perempatan Tugu tidak macet. Atau mungkin juga merindukan Jogja bebas dari polusi.

Pembangunan ekonomi terkadang sulit untuk berbanding lurus dengan penataan lingkungan. Hal ini selalu saja bergesekan. Tidak bisa dipungkiri, pemasukan kota Jogjakarta paling baik dari segi pariwisata. Lanskap pantai , gunung, dan candi menawarkan keindahan yang mewah. Andaikan ini bisa terurus dengan baik bukan tidak mungkin Jogja menjadi kembali nyaman seperti dulu kala. Mungkin sinisme saya terhadap kota Jogjakarta baru dari segi transportasi, jalanan, dan bangunan, lalu bagaimana dengan makanan? Jogja selalu menawarkan makanan murah dan itu mengapa sampai saat ini UMR di Jogja ‘masih’ tergolong rendah daripada kota Malang, Solo dan lainnya. Iya benar, Jogja tertolong dengan angkringan yang super murah dan Warmindo yang selalu menawarkan harga dibawah 10rb. Namun sayangnya kali ini boleh dibilang makanan di Jogjakarta agak ‘berlebih’ dalam soal harga. Pengaruh pendatang dan wisman yang rela merogoh kocek cukup dalam membuat penjual makanan tidak sungkan untuk menaikkan harga. Kadang sebagai orang Jogja, saya mikir tapi apa boleh buat label pariwisata yang cukup ngehits untuk kota se-nyaman ini membuat saya berkata “ya sudahla”.

Jogja jogja, saya gemes sekaligus lemes kalo puter2 Jogja. Semoga di hari ulang tahun yg cukup tua dari Indonesia, Jogja bisa berbenah. Semoga Jogja kembali nyaman, aman, dan tenteram. Sugeng Tanggap Warsa Jogjakarta 259th. Semoga lekas sembuh yaa Jogja.

*Ditulis sembari mendengarkan lagu Kapan Ke Jogja Lagi dari Everyday Band.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s